Akar Beringin di Seragam Hijau

Senin, 13 Desember 2004 | 17:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Cikal bakal munculnya Partai Golkar terjadi pada tanggal 20 Oktober 1964. Ketika itu berdiri organisasi bernama "Sekretariat Bersama Golongan Karya" atau disingkat "Sekber Golkar". Sekber Golkar merupakan perhimpunan (federasi ) 97 organisasi fungsional non afiliasi politik yang anggotanya terus berkembang hingga menapai 220 organisasi. Organisasi ini sebagian besar didukung Tentara Nasional Indonesia, khususnya TNI Angkatan Darat.

Setelah melalui Rakornas I (Desember 1965) dan Rakornas II (Nopember 1967) dilakukan pengelompokan organisasi berdasarkan kekaryannya ke dalam 7 (tujuh) Kelompok Induk Organisasi (Kino), yaitu :

a. Kino Kosgoro
b. Kino Soksi
c. Kino MKGR
d. Kino Profesi
e. Kino Ormas Hankam
f. Kino Gakari
g. Kino Gerakan Pembangunan

Untuk menghadapi Pemilu 1971, tujuh Kino yang merupakan kekuatan inti dari Sekber Golkar tersebut pada tanggal 4 Februari 1970 mengeluarkan keputusan bersama ikut menjadi peserta pemilihan umum. Mereka membuat nama dan tanda gambar yaitu "Golongan Karya" (Golkar). Logo yang menjadi tanda gambar Golkar sejak Pemilu 1971 tersebut tetap dipertahankan sampai sekarang.

Melalui Musyawarah Nasional (Munas) I tanggal 4-10 September 1973 di Surabaya, dikukuhkan perubahan nama organisasi. Sebelumnya, dalam Musyawarah Sekber Golkar tanggal 17 Juli 1971 di Jakarta, menggunakan nama sebagai peserta Pemilu 1971. Dengan demikian "Sekber Golkar " yang semula merupakan organisasi bersifat federatif dari golongan fungsional berubah menjadi "Golongan Karya" (Golkar).

Pada Pemilu 1971, Golkar bertarung bersama partai-partai yang ada seperti PNI, Murba, Parkindo dan NU serta partai beraliran Islam lainnya. Dengan dukungan dari militer dan birokrasi, Golkar berada diurutan pertama. Pemerintah kemudian memaksakan fusi partai-partai politik menjadi tiga. Pertama, Partai Persatuan Pembangunan yang merupakan gabungan Parmusi, NU, dan Partai Syarikat Islam Indonesia. Kedua, Partai Demokrasi Indonesia, gabungan dari PNI, Murba, Parkindo, Partai Katholik dan Partai IPKI. Ketiga, partai bentukan pemerintah ya Golkar ini (tidak mau disebut partai, meskipun mempunyai fungsi yang sama dengan partai).

Pada pemilu-pemilu selanjutnya tahun 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997 Golkar meraih suara terbanyak dan menjadi mayoritas tunggal. Hanya pada pemilu 1977, Golkar kalah di Jakarta oleh Partai Persatuan Pembangunan. Praktis selama ini, Golkar menjadi salah satu pilar pendukung rezim Soeharto. Dua pilar lainnya adalah ABRI/TNI dan birokrasi. Soeharto menggunakan tiga pilar itu untuk menjalankan kekuasaannya yang sentralistik dan menakutkan (Republic of Fear)

Jatuhnya Soeharto dari kursi kekuasaan pada Mei 1998, meruntuhkan pula tiga pilarnya. Karena desakan massa, Presiden B.J. Habibie yang menggantikan Soeharto melakukan reformasi politik. Dia mencabut izin pendirian pers dan mengusulkan pembaharuan beberapa undang-undang di bidang politik. Antara lain undang-undang yang baru tentang Partai Politik, Pemilihan Umum, dan Susunan dan Kedudukan ke MPR, DPR, dan DPRD.

Untuk menyesuaikan dengan ketentuan baru tersebut, pada tanggal 7 Maret 1999, Golkar mendeklarasikan diri sebagai Partai Golongan Karya, disingkat Partai Golkar. Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Partai Golkar yang baru, ditetapkan dalam Munas Luar Biasa pada 9-11 Juli 1998. Di munas ini, diadakan pemilihan langsung memilih ketua umum. Akbar Tanjung yang didukung Habibie dan TNI, akhirnya terpilih mengalahkan Jenderal (Purn) Edi Sudrajat yang didukung keluarga besar TNI.

Untung Widyanto