Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Narasi  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Nasional

Tak Ada Alat, Gajah Pun Jadi
Senin, 03 Januari 2005 | 16:40 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Kreativitas kadang tercipta dari kondisi serba terbatas. Dari tumpukan puing dan jenazah yang mengepung Banda Aceh pascabencana gempa bumi dan tsunami yang menghantam Ahad pekan lalu--sementara tenaga dan peralatan begitu minim--lahirlah sebuah jalan alternatif.

Andi Basrul, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, adalah orang yang punya ide cemerlang untuk membersihkan kotanya. Di tengah impitan kesedihannya kehilangan istri, anak, dan pegawainya akibat sapuan ombak, Andi masih bisa berpikir jernih untuk keselamatan mereka yang masih hidup. Saat itu, kondisi di kawasan rumahnya di Kompleks Kehutanan Lamjane sudah seperti tong sampah raksasa, penuh tumpukan kayu, sementara bau anyir mayat begitu keras.

Lokasi ini harus dibersihkan. Apa daya, dari informasi yang ia dapat, pemerintah daerah Aceh tak punya alat berat yang siap dipakai. Di hari-hari pertama musibah, alat-alat berat itu memang lumpuh. Tak ada tenaga yang bisa menjalankannya karena semua sibuk mencari sanak saudara mereka. Kalaupun masih ada tenaga yang tersisa, tidak tersedia bahan bakar untuk menjalankan roda-roda mesin itu.

Di saat seperti itu, Andi segera teringat pada dua ekor gajah peliharaan lembaganya yang cukup terlatih. Ida dan Medang, dua ekor gajah yang ditangkar di Saree itu, segera beralih profesi. Mereka membuka jalan bagi tim sukarelawan yang akan mengevakuasi mayat yang berserakan. Jalan memang harus dibuka karena di wilayah rumahnya saja, jalan masuk yang bisa dilalui mobil hanya 200 meter. Selebihnya adalah timbunan pepohonan, seng, pecahan beton, balok-balok kayu, besi, serta onggokan harta benda milik penduduk seperti kulkas, televisi, sepeda motor, dan mobil. "Tingginya mencapai setengah hingga satu setengah meter," kata Andi.

Tumpukan itulah yang harus disingkirkan. Dengan belalai dan gading panjangnya yang seperti garpu, Medang, gajah jantan asal Aceh Utara yang berusia 37 tahun, menggaruk timbunan sampah tersebut. Sampah diangkut, lalu ditaruh di samping jalan. Belalainya yang panjang membelit batang-batang kelapa dan balok-balok kayu untuk dipinggirkan. Ini dilakukannya berulang kali. Kakinya yang berdiameter kurang-lebih 30 sentimeter menindas kayu-kayu sampai patah. Atap seng yang ada di antara sampah itu ditarik hingga terkoyak dua. Pagar-pagar besi diinjak sampai gepeng.

Sementara itu, si Ida, gajah betina berusia 35 tahun, menemani si jantan bekerja. Ia mencium tubuh kasar Medang dengan belalainya. Ida sendiri terlihat agak malas-malasan. Ia hanya berjalan-jalan dan matanya melirik-lirik Medang. Sesekali belalainya mengangkat balok kayu, lalu menaruhnya di samping jalan. Kemudian ia diam lagi. Baru ketika si pawang menyuruhnya, Ida mulai mengendus-endus lagi. Ketika diketuk dengan palu, barulah ia mulai bekerja lagi.

Awalnya, duo gajah ini cuma beraksi di sekitar kawasan Lamjane. Tentu ini karena kawasan itu saja sudah tertimbun sampah yang menggunung. Belakangan, setelah jalan di sekitar Lamjane terkuak, aksi Medang dan Ida membongkar sampah meluas.

Berkat jasa keduanya, tim evakuasi yang beranggotakan polisi dari Brigade Mobil Kelapa Dua Depok serta Tim Pemadam Kebakaran Hutan Riau dan Sumatera Utara bisa bekerja sejak Sabtu lalu. Mayat-mayat yang tertimbun mulai bisa dibungkus dalam kantong jenazah. Truk Reo milik TNI pun sudah bisa keluar-masuk sejumlah kawasan untuk mengangkut jenazah dan membawa bantuan logistik. Penduduk yang selamat sudah bisa pulang mengambil harta benda mereka yang tersisa.

Di luar kerjanya, ada yang tersisa dari Medang. Saat bekerja, matanya memerah dan berair. Belalainya pun berlendir dan ia bersin-bersin. Andi tak tahu, adakah ini tanda Medang ikut bersedih dengan tragedi ini. Tapi, menurut M. Jamin, pawang gajah itu, biasanya setiap Medang melewati kompleks menuju rumah Andi, banyak anak-anak yang ramai menyambutnya dan ada suara-suara gaduh. Kini kawasan itu sepi, seperti asing baginya. "Yang pasti, dia punya naluri," kata Andi dengan suara serak.

Edy Can?Tempo


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

PBNU Siapkan Pesantren di Jawa Untuk Anak-Anak Aceh
Indonesia Segera Pasang Alat Pemantau Tsunami Senilai US $ 13 juta
Akhir Januari, Seluruh Jaringan Telkom di Aceh Normal Kembali
Pengungsi Aceh di Jakarta, Alami Radang Paru-Paru Diare dan Dehidrasi
Penumpang Bus Jurusan Medan-Aceh Membludak
Bupati Janjikan Rumah Darurat untuk Pengungsi
100 Pradja STPDN Diberangkatkan ke Aceh
Panti Depsos Siap Tampung Korban Bencana Aceh
1.550 Desa di Aceh Belum Berfungsi
Presiden : Bencana Aceh Tidak Menjadi Ancaman Rencana Pembangunan Ekonomi
> selengkapnya...


Referensi

Tak Ada Alat, Gajah Pun Jadi
Anak Saya Teriak Abi ? Abi, Air Sudah Datang
Mobil Tenggelam, Saya Keluar dari Kaca Tengah
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
> selengkapnya...

Website

Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP)
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Petani Nganjuk Temukan Benda Purbakala di Ladang
Kehilangan Hak Pilih, Ratusan Warga Wangaya Kelod Protes TPS
HP Luncurkan Tinta dan Toner Baru
Masak Pakai Sampah
Antre Minyak

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data