Anak Aceh, Anak Seribu Pulau

Minggu, 09 Januari 2005 | 17:51 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Fitriyani sejatinya sedang berlibur di kota Padang, Sumatera Barat, minggu ini. Tapi berita dibukanya pendaftaran pengadopsian yang dikeluarkan pemerintah daerah setempat telah menggerakkan langkah kaki ibu rumah tangga berusia 37 tahun itu. Guru Sekolah Dasar di Curup, Bengkulu, yang belum punya momongan ini pun menuju tempat pendaftaran di balai kota.
"Saya dengar ada anak-anak umur 1-5 tahun yang akan dibawa ke Padang untuk diadopsi," katanya berbinar, "saya langsung tertarik. Suami setuju."

Larangan pemerintah soal pengadopsian anak korban gempa dan tsunami rupanya tak menyurutkan minat sejumlah warga dan organisasi menjadi orang tua asuh. Bersama Fitriyani di Sumatera Barat, ada 250 ibu lain yang mengisi formulir, antre berdesakan di Balai Kota Padang.
Tempat pendaftaran dan pengambilan formulir adopsi itu juga berfungsi sebagai posko bantuan bencana alam tsunami Aceh. Persyaratan yang dipenuhi cukup mudah, hanya kartu tanda penduduk dan mengisi kesediaan mengadopsi serta menjamin pendidikan anak. Setelah itu, formulir dibubuhi meterai Rp 6.000. Wali Kota Padang Fauzi Bahar mengatakan, pendaftaran ini hanyalah persiapan. Pihaknya sendiri akan meminta secara resmi sekitar 300 orang anak Aceh dari Dinas Sosial di Aceh atau Medan.

Di Bekasi, telepon di Unit Pelayanan Teknis Departemen Sosial Bekasi berdering ratusan kali. Ibu-ibu di sana telah mendengar bakal adanya anak-anak korban tsunami di Aceh yang eksodus. Pendaftaran lewat telepon pun beruntun. "Ada juga penelepon yang bersedia menampung pengungsi sampai 50 orang," kata Kepala Panti Trisna Werda Budhi Dharma Depsos Bekasi, M. Sabir Gayo.

Bahkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama telah menyiapkan sekitar 450 pesantren di tiga provinsi Pulau Jawa sebagai lokasi penampungan. Menurut Ketua Tanfidziyah Ahmad Bagja, perinciannya: 150 pesantren di Jawa Tengah, 100 pesantren di Jawa Barat, dan 200 pesantren di Jawa Timur.

Kendati begitu, Bagja menyadari bahwa anak korban tsunami tidak bisa begitu saja dibawa keluar Aceh. Yang pasti, pesantren di tiga lokasi tadi mampu menampung sekitar seribu anak.
Menurut Ketua Umum Hasyim Muzadi, rencana mengangkat bocah-bocah Aceh sebagai anak asuh merupakan cara menyelamatkan generasi Aceh. Kalaupun memang tidak memungkinkan, kata dia, Nahdlatul Ulama akan merehabilitasi pesantren-pesantren yang rusak dan merekonstruksi pesantren yang sudah hancur total. Bahkan, kata Hasyim, seandainya sudah tidak ada pesantren yang layak lagi di Aceh, pihaknya akan membangun pesantren baru di wilayah terdekat, yakni Sumatera, seperti Pangkalan Susu, Besitang, Binjai, dan Medan. "Ini membuktikan anak-anak Aceh tidak sendiri."

Ketika banyak pihak baru menyatakan minat, Pemerintah Daerah Jawa Barat merasa sudah dapat isyarat. Menurut Gubernur Danny Setiawan, isyarat itu datang dari Departemen Sosial. "Kami diminta memfasilitasi anak yatim piatu di sana (Aceh) yang akan di bawa ke sini," katanya.
Danny pun bergegas. Forum Komunikasi Pesantren Jawa Barat segera ditemui, untuk mendata kesediaannya ikut menampung. Begitu juga pemerintahan di tingkat kabupaten dan kota yang ada di bawahnya.

Sebenarnya, kalau soal menyalurkan, Majelis Mujahidin Indonesia sudah menyatakan kesediaannya. Ketua Majelis Fauzan al-Anshari mengungkapkan, saat ini pihaknya telah memiliki sejumlah daftar keluarga yang siap menjadi orang tua asuh bagi anak-anak Aceh tersebut.
Ada juga yang sudah bergerak cepat. Robitul Ma'ahid Islamiyah (RMI) di Semarang, misalnya. Saat ini, kata Ketua RMI Zainudin, sekitar 100 anak Aceh sedang menuju Rembang yang akan ditampung organisasinya.

Anak-anak itu, kata dia, berasal dari sekolah menengah kejuruan. Di Rembang, mereka yang masih bersekolah di SMK mulai kelas I-III akan ditempatkan di sekolah sejenis. Biaya hidup dan sekolah mereka pun akan ditanggung. "Kalau mereka putus sekolah, ya diteruskan sekolahnya. Kalau tidak, silakan mondok saja. Yang jelas, semuanya ditanggung," katanya.

Febrianti/Siswanto/Sita/Abdi P/Dian Y/A Fikri?Tempo