Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Narasi  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Nasional

Niat Bantu Berbuah Isu
Minggu, 09 Januari 2005 | 17:55 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kisahnya berawal dari pesan pendek (SMS) yang dikirimkan musisi Dwiki Dharmawan kepada teman-temannya: "Apabila ada sumbangan pakaian anak, silakan salurkan ke rumahku. Nanti aku sampaikan ke Mer-C." Sayang, niat baik itu berbuah kurang manis. Pesan ternyata ada yang mengedit, menambah-nambahkan, kemudian disebarkan lagi. Isinya sudah berubah: Dwiki menampung anak-anak dari Aceh!

Gara-gara kabar inilah, "Saya tidak bisa tidur tiga hari," tuturnya. Maklum, sejak Minggu, 2 Januari, rumahnya ramai dikunjungi orang yang ingin melihat anak dan berniat mengadopsinya dari "tempat penampungan" Dwiki. Selain dari dalam kota, "Banyak juga yang dari luar kota," ucapnya. Kedatangan para dermawan itu, kata dia, ada yang sampai pukul 2 pagi. Bahkan ada telepon yang masuk sampai subuh. "Niat mereka pasti baik, ingin mengadopsi anak korban tsunami. Cuma informasi bahwa saya menampung itu salah," kata Dwiki.

Setelah upaya klarifikasi, "Yang datang memang berkurang." Namun, informasi lewat SMS terus berlanjut, "Bahkan lebih kreatif." Kini, menurut dia, ada embel-embel nomor rekening bagi yang ingin memberikan sumbangan dana. Dwiki berjanji bersama pengacaranya segera melakukan klarifikasi ke bank untuk melacak pemilik rekening tersebut. "Ada yang memancing di air keruh. Ini (kegiatan sosialnya) benar-benar dimanfaatkan." Kendati menyebarnya informasi salah tersebut mengganggu kehidupan keluarganya, bahkan, "Saya juga tidak bisa kerja, padahal lagi banyak kerjaan," Dwiki menegaskan bahwa dia tidak akan berhenti melakukan pekerjaan sosial.

Bahkan seandainya diberi kesempatan, dia bersedia mengasuh anak korban bencana tsunami di Aceh. Dikatakannya, dia pun bersedia terlibat dalam tim pemulihan sebagai bentuk kepeduliannya. Tentu saja, sesuai dengan bidangnya, yaitu musik. Isu serupa menerpa artis serbabisa Dorce Gamalama. Santer terdengar kabar ia telah menampung anak-anak Aceh di rumahnya. Ia pun membantah. Namun, ia mengaku memang tergerak untuk berbuat sesuatu pascabencana gempa dan tsunami di Aceh. Ia memang sudah membulatkan niatnya menampung anak-anak Aceh. "Kalau ada langsung ditampung," ungkapnya kepada Tempo.

Bersama Tuti Alawiyah, pemimpin pesantren Asyafiiyah, dirinya akan menampung anak-anak tersebut jika ada yang datang meminta pertolongannya. Namun, jika ada sanak keluarga si anak datang menjemput, langsung diserahkan. "Anak itu tidak boleh diadopsi. Jadi sistemnya begini, kalau nanti ada orang tua atau keluarga yang masih hidup mau ngambil, kami pulangin. Kami kan menyelamatkan saja," ujarnya.Di sisi lain, ia sendiri sangat setuju, jika ada kebijakan anak-anak Aceh tidak dikeluarkan dari Aceh. Itu wujud dari tanggung jawab pemerintah terhadap rakyatnya.

Artis lain, Ingrid Widjanarko, juga mencurahkan perhatiannya membantu anak-anak Aceh. Bentuknya bukan dalam menampung anak-anak, tapi menggerakkan bantuan untuk anak-anak di Aceh. Namun, berbeda dengan Dorce, ia termasuk yang setuju dengan adopsi. "Pengasuhan anak dan pengadopsian memang harus dilakukan. Bagi saya, alangkah aneh kalau manusia mengotak-kotakkan masalah. Masak orang mau bantu harus melihat-lihat dulu."

Prinsip dia, selama hatinya mengatakan ingin membantu, dia akan bantu. Seyogianya dalam kasus seperti ini, ego, politik, ataupun SARA dikesampingkan dulu. "Toh, anak ini begitu dewasa pasti bisa menentukan sendiri jalan hidupnya, pilihan agamanya, kembali Aceh atau tidak."
Tidak hanya para artis, kalangan partai juga diisukan telah menampung anak-anak Aceh, misalnya Partai Keadilan Sejahtera.

Menurut Pjs Presiden PKS Tifatul Sembiring, penampungan anak-anak Aceh yang kehilangan keluarganya menjadi prioritas partainya saat recovery atau pemulihan. Sejumlah pihak, kata dia, sudah menyatakan siap menampung bagi anak yang tidak mempunyai keluarga lagi. "Namun, sejauh ini kami memandang, sebaiknya anak-anak tersebut tidak diasuh di luar Aceh," ujar Tifatul.

Menurut dia, hal ini penting untuk diperhatikan agar anak-anak tersebut tidak tercabut dari akar budayanya sendiri. Sejauh ini pihaknya, Tifatul melanjutkan, berusaha melakukan pemetaan terhadap anak-anak Aceh yang berada di lokasi-lokasi penampungan. Hal ini merupakan upaya untuk membuat pendataan sehingga bisa diketahui kebutuhan para pengungsi, terutama anak-anak. "Saya sarankan, kalau sekiranya memang ingin membantu anak-anak itu, bisa dengan cara mengirimkan bantuan dari tempat masing-masing. Toh, tidak perlu sampai harus mengadopsi," ulasnya lagi.

Maria Ulfah/Rurit/Herry/Mawar/Sita?Tempo


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Indonesia Jamin Keamanan Tentara Asing dari GAM
Rumah Sakit Zainoel Abidin Butuh 6 Ambulans
Perbaikan Infrastruktur Perhubungan di Aceh Butuh Rp 780 Miliar
Menlu RI ke Eropa Bicarakan Moratorium Utang
Tentara Jepang Tawarkan Operasi Damai di Aceh
Bantuan Australia Dikelola Oleh Komisi Bersama
Psikolog Bangun Posko Korban Tsunami di Batam
Kongres Amerika Simpati Kepada Korban Tsunami
78.351 Mayat Telah Dievakuasi dan Dimakamkan
Pneumonia Ancam Anak-anak Korban Tsunami
> selengkapnya...


Referensi

Niat Bantu Berbuah Isu
Membekap Trauma di Pengungsian
Anak Aceh, Anak Seribu Pulau
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
> selengkapnya...

Website

Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP)
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Petani Nganjuk Temukan Benda Purbakala di Ladang
Kehilangan Hak Pilih, Ratusan Warga Wangaya Kelod Protes TPS
HP Luncurkan Tinta dan Toner Baru
Masak Pakai Sampah
Antre Minyak

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data