|
Nasional
Derita Pengungsi Belum Berakhir
Minggu, 09 Januari 2005 | 18:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: GETARAN bumi mungkin sudah berhenti. Namun, para korban masih menderita. Nestapa masih meliputi beberapa lokasi penanganan pengungsi yang didatangi Tempo sepanjang pekan. Tak cuma penyakit fisik, tapi juga depresi melanda para korban.
Dari Meulaboh, hingga 10 hari sesudah bencana, banyak warga yang mengalami depresi dan penyakit infeksi. Dokter Dino Gagah, salah seorang dokter relawan, mengatakan, pada 3 Januari, di Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, ia menangani sekitar 500 orang pasien. Lebih dari 50 persen dari pasien itu mengalami depresi.
Sampai saat ini, kata dia, petugas kesehatan hanya bisa menangani warga yang depresi dengan memberikan obat penenang. Belum ada pemulihan secara khusus dari psikolog ataupun psikiater. Selain itu, tim dokter relawan juga merawat korban yang terserang tetanus karena luka yang telah membusuk. Beberapa dokter yang ditemui di Meulaboh mengaku belum memiliki obat antitetanus serum untuk menanganinya. Akibatnya mereka hanya bisa memberi pengobatan jangka pendek untuk membersihkan luka yang sudah membusuk itu, semisal alkohol, Betadine, dan salep antibiotik.
Tetanus kini menjadi salah satu ancaman bagi korban yang hidup. Karenanya, obat-obatan untuk tetanus termasuk yang paling dibutuhkan. Dia memperkirakan di Meulaboh saja sekitar 500-an orang yang sudah terserang tetanus di pengungsian.
Selain itu, penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) juga mengancam. "Sebanyak 25 persen pasien mulai terserang penyakit ISPA," kata Kepala Pusat Penanggulangan Bencana Departemen Kesehatan, dokter Doti Indrasanto. Menurut dia, para pasien di Banda Aceh ditampung di RS Kesehatan Kodam Iskandar Muda, RS Tengku Fakinah, dan RS Harapan Bunda.
Menurut dia, umumnya pasien pernah menelan dan menghirup air kotor saat diterjang air bah. "Air laut yang kotor itu mengandung kuman-kuman berbahaya," ujarnya. Untuk mengobati mereka, pihaknya sudah mendatangkan dokter ahli paru-paru dari Jakarta yang dilengkapi dengan bronchoscopy (alat pengisap kotoran yang menyangkut di saluran pernapasan).
Dari pemantauan Tempo, saat ini sejumlah warga di pengungsian sudah mulai terserang diare, sesak napas, dan paru-paru. "Semakin hari semakin parah," kata Usman, warga Teunayong, yang kini jadi pengungsi di Desa Mataie. Usman merasakan sesak di tenggorokan dan paru-parunya lantaran "tersedak air kotor saat digulung gelombang tsunami".
Sejumlah korban diterbangkan ke Jakarta, terutama yang menderita luka kritis dan tidak tertangani di Aceh. Upaya membawa ke Jakarta diprakarsai Koalisi Masyarakat Sipil untuk Penanggulangan Bencana Gempa dan Tsunami di Aceh, yang merupakan gabungan dari sejumlah LSM, rumah sakit swasta, individu-individu dokter, dan perguruan tinggi di Jakarta.
Menurut Lili Hasanudin dari Yappika, saat ini pihaknya telah menerbangkan 15 korban bencana Aceh ke Jakarta dan menempatkan mereka di sejumlah rumah sakit di Jakarta, seperti di RS Yarsi, RSPAD Gatot Subroto, RS Harapan Kita, dan RS MMC. "Korban yang kami bawa khusus yang memiliki pendamping, seperti orang tua dan saudaranya," kata Lili.
Salah satunya adalah Tengku Darusman yang mendampingi anaknya, Ryan, 6 tahun, dan Cut Faradilah (2) ke Jakarta. Sebelumnya, kedua anaknya yang sempat tergulung ombak tsunami--tapi selamat lantaran berpegang pada atap rumah yang hanyut--sempat dirawat di Rumah sakit Tengku Fakinah, Banda Aceh. Namun, karena peralatan di rumah sakit itu tak memadai, para relawan menawarkan mereka untuk berangkat berobat ke Jakarta, tepatnya di RSPAD Gatot Subroto.
RSAB Harapan Kita, Jakarta Barat, juga menangani para korban. Ada 10 orang yang dirawat. Mereka umumnya mengalami penyakit radang paru-paru, diare, dan dehidrasi. "Kebanyakan korban tenggelam, sehingga air laut masuk ke paru-paru," kata Rini Rachmawati, Humas Harapan Kita.
Seorang korban berasal dari Kampung Mulia, Banda Aceh, adalah Maharani. Bocah 2 tahun itu dirawat di ruang darurat karena kemasukan air lumpur. Ia yang ditemani ibunya ini dibawa ke Jakarta oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).
Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP), Jakarta Selatan, tak tinggal diam. Ada belasan korban yang dirawat. "Mereka bila didatangi rata-rata masih menangis dan minta dicarikan keluarganya," ujar Mardalena, Kepala Humas dan Pemasaran RSPP. Menurut dia, rata-rata korban mengalami luka-luka pada sekujur tubuh akibat benturan pada saat kejadian tsunami.
Jumlah korban yang diboyong ke Medan lebih banyak lagi. Tak sedikit yang meninggal dalam perawatan lantaran terlambat mendapat penanganan medis. Kepala Satuan Kesehatan Badan Penanggulangan Bencana Nasional Sumut dan Nanggroe Aceh Darussalam, dokter Fatni Sulani, mengatakan, jumlah korban bencana di Aceh yang dievakuasi ke rumah-rumah sakit di Medan 1.318 orang.
Dari jumlah itu ada 504 orang yang masih menjalani rawat inap di 18 RS di Medan, antara lain RS Adam Malik (203 orang pasien), RS Pirngadi (162), RS Malahayati (161), RS Glen Eagles (122), dan Rumkit Dam I Bukit Barisan (107). Di luar Medan, ada 50 orang pasien asal Aceh ditampung di RS Dr Djulham, Binjai. Menurut Fatni Sulani, prioritas utama kepada pasien, yakni pengobatan fisik dan live surviving. "Kami belum mendata mereka yang terganggu jiwanya," katanya.
Ali/Sunariyah/Jojo Raharjo/Abdi/Fanny/Rinaldi/Ramidi?Tempo
|