|
Nasional
Menanti Guruh Menantang Mega
Jum'at, 11 Pebruari 2005 | 17:14 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Selepas dari jabatan Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri merasa akan bisa berkonsentrasi penuh mengurus PDI Perjuangan. Malah Megawati perlu meminta maaf kepada para pendukungnya karena tidak leluasa mengurusi partai demi mengemban tugas-tugas negara. "Sekarang tugas negara saya sebagai presiden telah selesai, maka kini saya bisa benar-benar berkonsentrasi mengurus partai kita," kata Megawati di depan pengurus dan kader PDIP Solo akhir bulan silam. Megawati masih berminat jadi Ketua Umum PDI Perjuangan?
Secara tegas Megawati memang belum menyatakan maju atau tidak. Padahal tak sampai dua bulan lagi Kongres PDI Perjuangan akan digelar di Bali. Itu sebabnya muncul desakan dari bawah agar Megawati segera menegaskan sikap. Soalnya, kader PDI Perjuangan mulai bingung. Harap maklum, sementara Megawati masih berhitung untung-ruginya maju dalam pemilihan, bursa calon ketua umum partai berlambang banteng gemuk itu sudah semarak oleh munculnya dua kandidat: Sophan Sophiaan dan Guruh Sukarno Putra.
Dengarlah misalnya keluhan I G.N. Dirga Atmadja, Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Tabanan. "Kalau Bu Mega maju terus, kami pasti tetap akan mendukung beliau," kata Dirga. Tapi, katanya lagi, karena belum jelas, Guruh menjadi alternatif. Sebagai salah satu utusan dalam kongres nanti, Dirga merasa harus terus mencermati setiap perkembangan agar perubahan mendadak bisa diantisipasi.
Nah, boleh jadi Dirga akan tambah bingung bila akhirnya Guruh menjadi lawan tanding Megawati. Sebab, bagi Dirga, akar kesetiaannya pada PDI Perjuangan tak bisa lepas dari figur mendiang Soekarno, ayah Guruh dan Megawati. "Bagaimana nanti kalau Megawati tiba-tiba mundur atau kalah suara? Komitmen kami kan harus tetap pada keluarga Soekarno," kata Dirga mencoba merumuskan kegamangannya menghadapi kongres.
Karena alasan itu pula Dirga turut menghadiri undangan peluncuran buku Guruh di Jakarta, yang dilanjutkan di rumahnya. Setelah itu, Dirga juga terlibat dalam Tim 3 bagi pemenangan Guruh di Bali. Terang saja langkah Dirga (dan beberapa kader PDI Perjuangan di daerah Bali) membuat Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDIP Bali Ida Bagus Surjatmadja ketar-ketir. Dia menyesalkan tindakan mereka yang dinilai telah mengalihkan dukungan dari Megawati ke Guruh.
Apa mau dikata, Guruh sudah berbulat tekad ke arena pemilihan. Kini dia tambah rajin menyambangi daerah-daerah basis PDI Perjuangan. Malah tak segan-segan Guruh "membuntuti" kakaknya. Akhir bulan lalu, misalnya, dia mengunjungi daerah-daerah yang baru disambangi Megawati di Jawa Tengah, termasuk Solo. Menurut rencana, pekan-pekan ini Guruh bersafari ke Bali dan Nusa Tenggara Barat, yang termasuk basis terkuat pendukung Megawati.
Guruh tak gentar menghadapi kakaknya. Secara pribadi, Guruh pun sudah membicarakan pencalonan dirinya dengan Megawati. "Saya minta pendapat Mbak Mega. Saya tanyakan usulannya. Katanya, 'Caranya kamu menggalang dukungan ke bawah'," kata Guruh berkisah. Saran itu bagi Guruh adalah tantangan.
Ada lagi yang penting. Guruh menolak tegas cibiran bahwa dia dijadikan alat atau boneka oleh kelompok yang ingin menggusur Megawati dari pucuk pemimpin PDI Perjuangan. "Maaf, saya bukan seperti itu," katanya. Guruh memang mengakui, dia didukung oleh kelompok pembaruan.
Menurut salah satu eksponennya, Didik Suprianto, gerakan pembaruan sebetulnya adalah menyukseskan upaya suksesi melalui Pemilu 2009. "Gerakan ini bertujuan menempatkan Megawati di dewan pengarah partai. Selain Megawati, kata Didik, Taufiq Kiemas, Sutjipto, dan Soetardjo Soerjogoeritno pun layak berada di dewan pengarah. Sedangkan struktur dewan pengurus pusat, masih menurut Didik, beranggotakan kader muda PDIP.
Gerakan ini berpandangan jabatan Ketua Umum PDI Perjuangan tak cocok lagi bagi Megawati. "Megawati kan mantan presiden, tak pantas mengurusi partai sampai tingkat kelurahan. Mega cocok dalam lobi ke atas," kata Didik.
Didik menepis tudingan bahwa gerakan ini adalah upaya menggusur Megawati dan de-Meganisasi. Tuduhan-tuduhan itu, kata Didik, muncul dari orang-orang yang tak menginginkan perbaikan partai. Tuduhan de-Meganisasi, kata dia, adalah upaya pemutarbalikan fakta agar daerah tak menerima konsep pembaruan. Dengan begitu, kader yang berada di lingkaran Megawati tetap bisa mempertahankan kedudukannya di DPP PDI Perjuangan. "Pengembusnya orang-orang yang berada di ketiak Mega," katanya.
Gerakan ini muncul sebagai respons terhadap lemahnya manajemen PDIP. Noviantika Nasution, juga pendukung gerakan, mengatakan bahwa kekalahan PDIP pada Pemilu 2004 adalah bukti kelemahan itu. "Pengurus terbukti tidak menjalankan amanat kongres sebelumnya. Artinya, ada yang salah dan perlu direvisi dan direvitalisasi," katanya.
Selain oleh Didik dan Noviantika, kelompok pembaruan didukung oleh Roy B.B. Janis, Soetardjo Soerjogoeritno, Arifin Panigoro, dan Sukowaloyo Mintoharjo. Kelompok inilah yang memilih Guruh sebagai penantang Megawati. Guruh mengangguki pinangan itu karena dia setuju PDI Perjuangan memang butuh perubahan dan regenerasi. "Kalau ada daerah yang menyatakan mendukung Mbak Mega, itu hanya karena belum tahu kesiapan saya dicalonkan," katanya.
Rupanya isu upaya menggusur Megawati juga dibantah kandidat lain, Sophan Sophiaan. "Bohong itu, nggak ada de-Meganisasi," kata Sophan. Dia berpendapat, isu de-Meganisasi adalah isu yang dicoba diembuskan oleh orang-orang yang tidak suka dengan perbaikan di tubuh PDIP. "Saya jamin, itu orang-orang yang ingin merusak dan melemahkan kader-kader PDIP."
Cibiran terhadap pencalonan Guruh yang dikaitkan dengan de-Meganisasi memang sudah muncul secara terbuka. Misalnya, Wakil Koordinator Wilayah Jawa Timur PDI Perjuangan, L. Soepono, menyatakan bahwa majunya Guruh sebagai kandidat ketua umum adalah rekayasa pihak di luar pengurus pusat. "Rekayasa ini dilakukan untuk menggembosi kekuatan Megawati," kata Soepono.
Politikus PDI Perjuangan Taufiq Kiemas, suami Megawati, tak terlalu khawatir dengan majunya Guruh. Dia yakin dukungan buat Megawati masih kuat. "Saya tidak tahu kenapa dia (Guruh) mendatangi daerah yang telah didatangi Mega sebelumnya," kata Taufiq.
Menurut ketua tim suksesnya, Imam Munjiat, Guruh menemui pengurus daerah dan aktivis di luar struktur partai. Imam optimistis kans Guruh tetap besar untuk menyalip Megawati dalam soal penggalangan dukungan. Caranya? Guruh akan menggarap tiga dari empat utusan setiap cabang yang akan dikirim ke kongres.
Imam berterus terang, sejumlah ketua DPC yang sudah secara terbuka menyatakan "kebulatan tekad" mendukung Megawati menyulitkan Guruh. Karena itu, menurut Imam, Guruh akan berkonsentrasi ke utusan selain ketua DPC. "Utusan kongres (tiap cabang) kan empat orang. Kalau ketuanya sudah ke Mega, masih ada tiga orang lagi yang bisa digalang," kata Imam.
Imam mengklaim sambutan daerah positif terhadap kesiapan Guruh bersaing dengan Mega di kongres. Kesediaan sejumlah ketua DPC bertemu saja sudah menandakan calon ketua umum ini diterima di daerah. "Meski dukungan itu tak eksplisit." Benarkah?
Yanto Musthofa/Rofiqi Hasan/Purwanto/Anas Syahirul/Imron Rosyid ? Tempo
|