Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Narasi  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Nasional

Guruh Sukarno Putra: Saya Bukan Antek Siapa pun
Jum'at, 11 Pebruari 2005 | 17:35 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Anak bungsu keluarga Bung Karno ini tiba-tiba menjadi perbincangan politikus PDI Perjuangan. Keberaniannya menantang sang kakak dalam Kongres II PDI Perjuangan di Bali menjadi topik diskusi hangat. Sejauh mana keseriusan dan kesiapan Guruh menantang sang kakak? Berikut ini wawancara Guruh dengan Purwanto dan Jobpie Sugiharto dari Tempo di rumah pribadinya.

Bagaimana keputusan pencalonan diri Anda?
Saya sudah melakukan konfirmasi sejauh mana dukungan dari daerah. Anggota PDIP banyak menyadari partai ini bobrok, gagal, dan terpuruk, sehingga perlu membuat perubahan dan regenerasi. Semua kompak, perlu pembaruan dan perubahan. Tuntutan itu makin menguat menjelang pemilihan umum tahun lalu. Dari perorangan sampai lembaga, dari lisan sampai tertulis. Akhirnya saya mengambil keputusan siap dicalonkan.

Adakah pertimbangan lain?
Secara feeling saja. Sejak masuk pada 1991, saya sudah punya intuisi bahwa partai ini dapat dijadikan alat untuk perjuangan. Saya mengikuti perkembangan PDIP sejak masih ditekan Orde Baru sampai menjadi pemenang pemilu. Bahkan saya mengikuti sampai akhirnya di PDIP terjadi kebobrokan-kebobrokan mental manusia dan moralnya. Saya jadi tertantang untuk membenahinya.

Apa modal Anda untuk bersaing dengan Megawati?
Upaya saya dengan memberikan pencerahan dan penyadaran bahwa saya serius dan perlu perubahan. Saya pribadi beranggapan Mbak Mega dapat memberikan tongkat estafetnya demi regenerasi.

Bagaimana tanggapan Anda terhadap mereka yang meragukan kepemimpinan Anda?
Cobalah belajar dari sejarah. Sebelum saya di PDIP, ada organisasi Swara Mahardika dengan anggota ratusan dan lingkarannya sampai ratusan. Artinya, saya punya pengalaman tak hanya di Swara Mahardika, tapi juga di organisasi lainnya. Sebelum Mbak Mega menjadi ketua umum, kenapa orang bisa memberikan kepercayaan padahal waktu itu Mbak Mega hanya sekadar ibu rumah tangga?

Anda merasa lebih baik dalam berorganisasi dibanding Mega?
Ya, lihat sendiri sejarahnya. Saya merasa diri saya pernah berorganisasi.

Adakah tekanan kepada Anda dari daerah yang tetap mendukung Mega?
Saya kira itu jadi tantangan bagi pendukung saya. Saya melihatnya sebagai proses pendewasaan demokratisasi. Sumpah darah itu sebenarnya tak perlu dalam kongres kalau PDIP mau menjadi partai besar. Namun, kalau hanya mau jadi partai besar dari segi kuantitas, tapi kerdil jiwanya, tak mau dewasa, ya... ini tantangan juga.

Kenapa pendukung Anda tampak kurang percaya diri?
Abis semuanya serba salah. Secara murni mereka ingin alih generasi, tapi mereka bingung caranya bagaimana. Nanti salah dibilang anti-Mega dan ditunggangi. Termasuk saya. Saya saja dikatakan begitu, seolah saya ada sponsor dan dibekingi Arifin Panigoro dari segi finansial. Itu saya kira tidak benar.

Jadi kesiapan Anda karena memang niat dari diri sendiri?
Saya katakan ini murni karena niat ingsun ingin membenahi PDIP menjadi alat yang efektif dan ampuh mencapai cita-cita perjuangan. Saya nggak bisa jadi antek atau bonekanya siapa.

Apakah Anda sudah siap menghadapi kemungkinan terganjal tata tertib kongres?
Sudah ada beberapa ketentuan yang kurang demokratis dan kurang menguntungkan di alam demokrasi. Contohnya wacana formatur tunggal dan hak prerogatif.


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kwik: Peta Kekuatan Pra Kongres PDIP Belum Jelas
BMI Ingin Jadi Onderbouw PDIP
Sucipto Siap Bertangungjawab di Kongres PDIP
PDI Solo Dukung The Gang Of Three Dampingi Mega
Megawati Tak Khawatir Disaingi
Berijazah Palsu, Ketua PDI Perjuangan Rembang Ditahan
PDI P Jember Tetap Dukung Mega
PDIP Disarankan Bentuk Kabinet Bayangan
Mega Siap Pimpin PDIP
Mega: Sebenarnya Saya Ingin Pensiun dari Politik
> selengkapnya...


Referensi

Guruh Sukarno Putra: Saya Bukan Antek Siapa pun
Menanti Guruh Menantang Mega
Apa Kata Megawati Soekarnoputri
PP RI No. 51 Tahun 2001 Tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik
Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD
> selengkapnya...

Website

Megawati Sukarnoputri


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Empat Calon DPD Sumatera Selatan Terancam Gugur
Verifikasi Faktual DPD Lampung Terancam Molor
Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang

<< February,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data