Kisah Para Penantang yang Terpental
Jum'at, 11 Februari 2005 | 17:43 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Politikus PDI Perjuangan Eros Djarot punya istilah menarik untuk menggambarkan Megawati dalam komunitas partainya. "Dalam PDIP, Megawati itu manusia setengah dewi, superwoman, apabila didekati dalam jarak tertentu, bisa nyetrum," katanya. Eros membuat gambaran itu saat bersiap mencalonkan diri menjadi ketua dalam Kongres I PDI Perjuangan pada tahun 2000 di Semarang, Jawa Tengah. Meski menyatakan siap menantang sang bos, sutradara film ini sadar risiko. Berbagai ganjalan sudah menghadang sebelum Eros berangkat ke medan pertempuran.
Keberanian Eros mengundang decak kagum sebagian warga partai. Namun, tak sedikit yang mencemoohnya karena dia dianggap kelewat lancang. Bahkan tudingan tak tahu diri sempat dialamatkan kepada dirinya. Berbagai tanggapan ini bisa dilihat dari kiprah Eros di PDI Perjuangan. Selama Pemilu 1999, Eros memang tak terlihat aktif berkampanye. Dia lebih banyak berada di balik layar kepemimpinan Mega. Bahkan Eros boleh dianggap sebagai salah satu pemikir kiprah Megawati memimpin partai.
Kesiapan Eros menantang putri Bung Karno itu ternyata tak berjalan mulus. Mereka yang menentang langkahnya mencoba menghalanginya dengan berbagai cara. Salah satunya menggagalkan rencana keberangkatannya ke arena kongres. Pada mulanya Eros lolos sebagai utusan karena dirinya terpilih dalam konferensi cabang khusus di Jakarta Selatan. Namun, status keanggotaan dan alamatnya dipertanyakan. Halangan tak hanya sebagai peserta. Untuk menghadiri pembukaan kongres pun ia dilarang oleh satuan tugas (satgas) PDI Perjuangan.
Larangan datang ke arena kongres sudah ia terima sejak di luar arena. Beberapa simpatisan dan satgas partai menyanyikan lagu dengan lirik dan nada kurang nyaman: "... siapa yang bukan Mega harus mati...." Lagu bernada ancaman ini tentu saja membuat Eros berpikir seratus kali untuk memaksakan diri masuk arena kongres. "Saya sudah menyamar seperti anggota yang lain, tapi tetap ditolak," kata sutradara film kelahiran Rangkasbitung, 22 Juli 1950, ini.
Rencana Eros maju ke kongres sebenarnya dilandasi keinginan agar tidak terjadi sakralisasi terhadap Megawati. Bahkan jangan sampai ketua umum partai dikeramatkan dan tidak bisa disentuh. Namun, keberaniannya mencalonkan diri dianggap dosa tak terampunkan oleh warga partai. Dosa seperti ini pula yang mesti ditanggung Dimyati Hartono, politikus lain yang juga maju ke bursa ketua umum.
Profesor hukum Universitas Diponegoro Semarang ini sebenarnya lebih dikenal warga PDI Perjuangan di lapisan bawah. Kiprahnya selama masa kampanye membuat bintangnya cukup benderang. Dia salah seorang Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan yang paling sering tampil di media membela Megawati. Bahkan, saat Mega keliru memahami konsep negara federal, Dimyati tampil habis-habisan sebagai pembela. "Kalau jadi negara federal, kan, repot. Mau ke Jawa Timur saja harus pakai paspor," kata Megawati dalam pidato politiknya di Stadion 10 Nopember Surabaya.
Pembelaan Dimyati seperti hilang begitu saja saat dirinya maju ke bursa ketua umum dalam Kongres I PDI Perjuangan di Semarang. Ahli hukum kelautan ini dianggap tak tahu diri dan kelewat lancang menantang Mega. "Saya hanya ingin agar Bu Mega berkonsentrasi sebagai wakil presiden," katanya. Alasan yang cukup masuk akal itu tak bisa diterima sebagian besar warga Banteng. Keberanian Dimyati harus dibayar mahal. Seusai kongres, dia terpental dari kepengurusan. Pada akhirnya dua penantang Megawati ini harus angkat kaki dari kandang Banteng.
Arif Firmansyah-Tempo





