Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Narasi  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Kuas-kuas Kecil dari Pengungsian:

Kisah Sedih di Hari Minggu
Senin, 21 Pebruari 2005 | 16:52 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: "Istana tempat aku dan keluarga berkumpul tinggal kenangan." Tulisan dengan spidol hitam ini menjelaskan foto yang ada di atasnya. Foto tersebut memuat gambar Rizaldi sedang berdiri di atas lahan bekas rumahnya di Dusun Kakap, Desa Ulee Lhee, Kecamatan Meuraksa, Kota Banda Aceh. 'Istana' itu tinggal menyisakan fondasi dan 10 penghuninya: istri, dua anak, mertua dan adik-adik istrinya, hilang ditelan gelombang tsunami.

Dari keluarga besarnya, kini, Rizaldi, 36 tahun, hidup bersama adik sepupunya di kompleks TVRI Gue Gajah. Namun tidak hanya Rizaldi yang kehilangan anggota keluarganya, rekan-rekan nelayan lainnya juga bernasib sama. Dari 1.800 kepala keluarga yang tinggal di Dusun Kakap, hanya tersisa 230 keluarga, dan sebagian besar laki-laki.
"Diantara yang tersisa, pasti ada yang kehilangan istri, anak-anak, orang tua atau sepupu," kata Syukri, nelayan lainnya dari Dusun Kakap yang kehilangan istri, seorang
anak dan 53 keluarga besarnya.

Ke-230 jiwa itu kini tinggal di sejumlah tenda peleton yang saling berdekatan di kompleks TVRI Gue Gajah. Jumat, 21 Januari lalu, mereka bersama-bersama melakukan salat Idul Adha, di mesjid Ulee Lhee yang sepertiga bangunannya hancur diterjang tsunami. Usai salat, masing-masing menuju rumahnya yang hanya menyisakan fondasi, bahkan ada yang hilang tertutup air laut yang bibir pantainya kini semakin menjorok ke dalam. Masing-masing berdoa dan berfoto di atas sisa-sisa 'istana'-nya.

Parade foto-foto itu ditempel di tripleks berukuran 150 x 70 sentimeter dan dilapisi plastik agar tidak terkena hujan. Dengan disangga dua kaso, tripleks ini dipasang di depan tenda pleton, seolah-olah menyambut pengunjung. Jika anggota pramuka sedang mengikuti perkemahan (Jambore daerah atau nasional), di depan tenda mereka dipasangi
triplek dengan tulisan asal daerahnya, misalnya 'Selamat Datang di Perkemahan Kwartir Cabang Jakarta Selatan'

Sebaliknya, tidak ada ucapan selamat datang dari warga Dusun Kakap. Yang ada hanya tulisan, 'Kisah Sedih di Hari Minggu, Posko Dusun Kakap, Pantai Cermin, Desa Ulee Lhee, Meuraksa,' di atas parade foto. Di bawah tiap foto itu ada caption (penjelasan foto) dari warga yang selamat. Syukri, 40 tahun, yang dalam foto itu berdiri di atas fondasi rumahnya dan berkopiah haji warna putih, menggoreskan kalimat: Di sini tempat aku dan buah hatiku bercanda ria.

Seorang pria yang sedang duduk dan menyelendangkan sarung di lehernya menulis: Aku sangat berharap dapat bertemu dengan keluarga dan calon istriku. Pria lainnya yang berbaju kotak-kotak merah menulis, 'Istri dan anakku hilang, kini aku sendiri.'

Bayang-bayang istri, anak dan orang tua memang masih membekas di benak mereka. Ketika Tempo mencatat caption foto di papan tripleks, Rizaldi masuk ke dalam tenda untuk mengambil 3 foto. Yang pertama, gambar istrinya berjilbab abu-abu. Dipojok kiri atas terdapat tulisan: Dicari Linda Agustina. Berikutnya foto anak perempuan, Debby (5 tahun) dan Mentari Gebrina Reza (10). Terakhir, foto anak laki-laki bernama M Rizal Sifani (8). Di masing-masing foto itu ada nama dan nomor handphone yang bisa dihubungi. "Tolong Pak, diberitakan foto-foto keluarga saya yang hilang ini," ujarnya.

Rizaldi lantas bercerita menit-menit menjelang petaka, Minggu, 26 Desember 2004. Satu jam selepas azan subuh berkumandang dari mesjid Ulee lhee, dia melaut bersama adik sepupunya. Dia dikejutkan oleh ombak yang begitu besar dari daratan sehingga kapal layar yang berisi 9 orang dilajukan ke arah tengah. Tidak lama kemudian dia berpapasan dengan Syukri yang naik motor boat, yang mengajaknya pulang. Menjelang pantai, dia saksikan ribuan ikan mengambang dan segera diangkutnya ke atas kapal.

Sesampainya di daratan dia melihat pemukimannya yang berada pada ratusan meter dari bibir pantai hancur, rata dengan tanah. Bersama teman-temannya, mereka menambatkan kapal di daerah Peunayong. Ribuan jenazah dia balik-balik untuk mencari jasad istri, kedua anak dan keluarganya. Sayang, mereka hilang ditelan gelombang tsunami yang masuk sejauh 5 kilometer ke Kota Banda Aceh.

Tuhan menguji lagi hatinya, karena kapal yang ditambatkan di Peunayong lenyap. Kapal boat Syukri dan kapal milik Suryadarma, rekannya, juga lenyap digondol penjarah yang beroperasi pascastunami. Akhirnya, empat hari setelah tragedi Kisah Sedih di Hari Minggu, Rizaldi bersama warga Ulee lhee yang selamat mengungsi di kompleks TVRI, Gue Gajah.

Syukri mengaku mendengar suara ledakan seperti bom, ketika berada di perairan dekat Sabang. Setelah itu laut berguncang. Beberapa menit kemudian, dia melihat ombak dari tiga penjuru berkejaran menuju Banda Aceh. Dia tidak bisa memperkirakan berapa meter tinggi ombak namun dia lihat ada tiga lapis, paling bawah berwarna biru, di atasnya hitam dan paling atas berwarna merah-putih. "Ada perasaan tidak enak, pasti ada apa-apa di Banda Aceh," ujar pemilik boat ukuran 6,20 x 1,5 meter seharga Rp 23 juta.

Di kompleks TVRI, Rizaldi, Syukri dan Suryadarma dan warga Ulee Lhee menolak disebut pengungsi. "Kami ini korban. Anak, istri, keluarga dan rumah hilang," kata Syukri. Selama sebulan ini, mereka dapat bantuan beras, lauk pauk dan kesehatan dari warga dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam dan luar negeri. Tidak ada kegiatan lain yang mereka lakukan. Namun sejak pekan lalu, secara bergiliran mereka menugaskan beberapa orang ke bekas Dusun Kakap untuk mengais-ngais barang miliknya yang tersisa. Lainnya, bertugas memasak untuk mengisi kebutuhan fisik rekan-rekannya.

Menurut Syukri, dirinya ingin kembali tinggal di Dusun Kakap. Dia tidak merasa takut meskipun di salah satu bagian Desa Ulee Lhee digunakan untuk kuburan massal korban tsunami. Keinginan yang sama juga disuarakan Rizaldi dan Suryadarma. Menurut keduanya, sebagai nelayan dirinya tidak bisa tinggal jauh-jauh dari pantai. Salah satu caption foto bertuliskan, "Aku hanya bisa memandang bekas bangunan rumahku. Semoga pemerintah cepat membangun rumah baru." Di foto itu, seorang pria warga Ulee Lhee bertopi rimba mengamati fondasi rumahnya dan sisa-sisa batu bata yang menjadi saksi Kisah Sedih di Hari Minggu.

Untung Widyanto?Tempo


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Negara Donor Minta Rencana Detail Rekonstruksi Aceh
Dua Mantan Presiden AS Kunjungi Aceh
Bill Clinton dan George Bush Bertemu SBY, Hari Ini
SBY akan Bertemu Clinton dan Bush, Besok
Presiden Optimis Tanggap Darurat Selesai Tepat Waktu
Mahasiswa Aceh Barat Resah
Presiden Yudhoyono Kunjungi Barak Relokasi
1500 Karung Pakaian Sumbangan Dijual, Uangnya Dikirim ke Aceh
Komite Internasional untuk Aceh Dideklarasikan Besok
Detasemen Meulaboh Kemungkinan Jadi Pangkalan Udara
> selengkapnya...


Referensi

Kisah Sedih di Hari Minggu
Ada Yang Malah Berenang di Lumpur
Lewat Pramuka Menuju Aceh
> selengkapnya...

Website

Info Penyakit Menular
Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Kovalainen tercepat
Tersangka Teroris Asal Singapura Tak Bisa Dideportasi
Todung Mulya Lubis Pesta Ulang Tahun Ke-59
Tak Ada Minyak Mentah Di Antapani
Walikota Cirebon Tolak Cairkan Gaji ke 13

<< February,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data