|
Goresan Kuas Kecil dari Pengungsian
Pengungsi Palsu dan Konflik di Seputar Tenda
Jum'at, 25 Pebruari 2005 | 00:20 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Deretan becak motor berjejer di samping gedung TVRI, Gue Gajah, Mata Ie, Kabupaten Aceh Besar. Di sebelahnya ada mobil Toyota Kijang dan Corolla warna hitam. Usai antrean pembagian jatah sembako bagi pengungsi, sejumlah orang membawa barang-barang itu ke dalam becak dan mobil. Lantas, mereka meninggalkan kompleks pengungsian korban tsunami yang dihuni 5.000 jiwa.
Widiheru, anggota Pramuka Peduli yang menjadi koordinator logistik, menjelaskan aktivitas becak dan mobil sudah dilakukan sejak pertengahan Januari. "Mereka pengungsi palsu yang menggunakan kupon yang distempel Keuchik (kepala desa, red) kampungnya," kata relawan pramuka dari Yogyakarta. Awalnya dia kesulitan menindak pengungsi jadi-jadian tersebut, karena mereka dibacking oknum Keuchik. Namun kini mereka mulai bertindak tegas dengan menyeleksi kupon asli tapi palsu.
Robert, mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh yang juga mengurusi logistik di kompleks TVRI mengaku pernah menemukan kupon tersebut. Di atasnya terdapat tulisan dengan mesin tik: Kupon Geuceuh Meunara tanggal 14 Januari 2005. Lalu ada tertara nama dan stempel dari Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh, Geuchik Gampong, Geuceh Meunara, Kecamatan Jaya Baru. Dia tahu gelombang tsunami tidak menyerbu daerah Geuceuh Meunara. "Ketika saya tegur dia mencoba berdalih, namun saya tetap menolak," katanya.
Menurut Robert, sejak dua pekan lalu mulai masuk pengungsi yang tidak jelas asal usulnya ke kompleks TVRI. Dalam sehari, jumlahnya sekitar dua puluh keluarga. Alhasil lahan bagian belakang kompleks mulai dipenuhi tenda pengungsi. Di sisi lain, bantuan dari luar sedikit demi sedikit terus berkurang seiring dengan banyaknya relawan yang keluar Aceh.
Maraknya pengungsi palsu itu menimbulkan kecaman dari yang asli. Sabtu (29/1) malam, ketika Tempo berdiri di pos depan kompleks TVRI, Mora Harahap datang. Pengungsi yang tinggal di Blok C ini berkeluh kesah tentang masuknya "pengungsi palsu" untuk mendapat bantuan. "Mereka itu mencari-cari kesempatan dalam kesulitan korban tsunami," ujar Mora, yang rumahnya di Lamprit porak poranda.
Mora yang pensiunan pegawai Pemadam Kebakaran ini menyebut sejumlah daerah yang
tidak terkena air bah tsunami namun warganya mengungsi di kompleks TVRI. Antara lain: Geuceh Meunara, Ketapang, Mata'ie, Lhongbata, Cot Mesjid, Lamlagha dan
Lhampeuneurut.
Mora menjelaskan, ketika era Daerah Operasi Militer (DOM) fenomena "pengungsi palsu" juga ada. Ketika bantuan mengalir ke kamp-kamp pengungsian korban konflik bersenjata itu, banyak warga di desa, kata Mora, yang pura-pura menjadi pengungsi. Tujuannya satu, mendapat bantuan beras, lauk pauk dan obat-obatan. Setelah mendapat itu semua, mereka kembali ke kampung halamannya.
Di kompleks TVRI, tiap pengungsi mendapat jatah perlengkapan dan logistik. Menurut Widiheru, pengungsi mendapat tenda terbuat dari terpal dan kompor (untuk 6 orang). Lalu selimut, handuk, tikar (untuk 2 orang), sarung, mukena, lampu badai dan alat-alat masak (untuk 10 orang). Perlengkapan itu diberikan di awal mereka tinggal di kompleks pengungsian. Jatah logistik untuk keluarga (5 orang) dibagi setiap hari pukul 15.00, berupa beras, minyak goreng, sarden, mie instan, biskuit dan gula pasir. Selain itu mereka juga mendapat susu bubuk.
Nah jatah logistik inilah yang kemudian diangkut pengungsi palsu dengan kendaraan masing-masing. Seorang relawan mendengar kabar oknum pengungsi jadi-jadian mampu mendapat uang Rp 1 juta seminggu dari penjualan barang-barang tersebut. Sukur, warga Dusun Kakap, Pantai Cermin, Desa Ulee lhee, Meuraksa, meminta panitia bersikap tegas terhadap pengungsi palsu itu. Dia meminta warga yang rumahnya cuma kena percikan air tsunami kembali ke kediamannya. "Agar kami yang benar-benar jadi korban mendapat bantuan," kata pria yang rumahnya hanya tersisa fondasi.
Untuk memeriksa mana pengungsi asli atau palsu, Robert mengaku pada malam hari melakukan inspeksi mendadak ke setiap tenda. Dia berharap dapat membatasi jumlah pengungsi yang tidak semestinya mendapat bantuan. Langkah yang sama juga dilakukan mahasiswa dan aktivis yang mengelola kamp pengungsi di Ulee Kareng.
Mukhriza, alumni Universitas Syiah Kuala, menjelaskan setiap jam 24.00 pihaknya memeriksa 32 tenda yang ada di komplek pengungsian yang menempati lahan masjid
Baitusalihin, Ulee Kareng. Langkah itu dilakukan sejak akhir Januari setelah diketahui semakin hari jumlah pengungsi bertambah. "Dari inspeksi, rata-rata 50 orang kami coret dalam daftar dan tidak mendapat lagi bantuan logistik," katanya.
Di kamp pengungsi ini, dari data terakhir ada 1.500 pengungsi yang sebagian besar berasal dari Alunaga dan Lingke. Inspeksi sengaja dilakukan malam hari, karena siang hari mereka mengaku sedang bekerja. Dijelaskan Mukhriza, kadang-kadang persoalan pembagian jatah logistik memunculkan konflik diantara pengungsi di satu tenda. Memang di kompleks ini, dalam satu tenda peleton ukuran 6x10 meter bisa didiami 100 orang. Mereka memprotes ketua tenda yang tidak merata pembagian jatah.
Konflik lainnya terjadi antara penghuni baru dengan yang lama, yang sudah menempati mesjid Baitusalihin sejak hari ketiga tsunami. Ini biasanya terjadi pada rebutan alat-alat masak. Menurut Mukhriza, pengungsi lama sudah mendapat alat masak, seperti kompor, panci dan penggorengan untuk tiap keluarga. Karena alat-alat itu habis, pengungsi baru tidak mendapat jatah. "Kadang-kadang yang baru meminjam pada penghuni lama untuk waktu yang lama, sehingga terjadi adu mulut," katanya.
Untung Widyanto-Tempo
|