close

Ladang Minyak yang Diperebutkan Dua Negara

Selasa, 08 Maret 2005 | 21:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Hubungan Indonesia dan Malaysia kembali memanas. Kali ini bukan dipicu oleh persoalan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di negeri jiran itu. Tetapi dipicu oleh perebutan wilayah yang mempunyai potensi cadangan minyak cukup besar, yakni Blok East Ambalat. Kedua negara, baik Indonesia maupun Malaysia saling mengklaim bahwa wilayah tersebut milik mereka.

Ladang minyak yang diperebutkan itu sendiri berlokasi di Laut Sulawesi, tepatnya di perairan sebelah timur Pulau Kalimantan. Namun, blok itu berada di wilayah perbatasan dengan Malaysia. Lokasi migas itu terbagi dalam dua blok, yakni Blok Ambalat dan Blok East Ambalat. Namun, yang diperebutkan adalah Blok East Ambalat.

Pengelolaan kedua blok itu oleh pemerintah diserahkan kepada kontraktor asing dengan pola bagi hasil, yakni 75 persen untuk pemerintah dan 25 persen untuk kontraktor. Blok Ambalat dikelola oleh Eni Ambalat Ltd., kontraktor dari Italia. Sedangkan, Blok East Ambalat dengan luas 4.175 kilometer persegi dikelola Unocal Indonesia Ventures Ltd.

Unocal, perusahaan minyak dan gas asal Amerika ini memenangkan tender blok migas yang diadakan pemerintah tahun lalu. Penandatangan kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) dilakukan 12 Desember 2004, dengan komitmen eksplorasi sebesar US$ 1,5 juta dan bonus penandatanganan sebesar US$ 100 ribu. Berdasarkan data di situs resmi Unocal (www.unocal.com), Unocal memiliki saham 45 persen di Blok East Ambalat, sedangkan 55 persen sisanya dimiliki oleh Lasmo, perusahaan migas asal London.

Persoalannya, sejauh ini belum ada data jelas mengenai berapa persisnya cadangan minyak di lokasi sengketa. Baik kontraktor yang mendapat konsesi pengelolaan, Pertamina, maupun Departemen Energi belum ada yang mengumumkan temuan minyak di kawasan ini. "Potensi minyak tak bisa dipublikasikan karena masalah bisnis," ujar Novian Thayib, Direktur Eksplorasi Departemen Energi kepada Tempo di Jakarta kemarin.

Yang jelas, menurut dia, potensi minyak di Ambalat jauh di bawah Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur. Cadangan minyak di Cepu diperkirakan mencapai 400-500 juta barel.

Menurut dia, potensi minyak Ambalat juga sudah diketahui saat wilayah ini dikelola oleh Shell, kontraktor minyak asal Belanda pada 1999. Saat itu, Shell sempat melakukan eksplorasi hingga tiga sumur, tetapi cadangan minyak yang ditemukan dinilai belum ekonomis. Kemudian, wilayah ini dikelola oleh Eni Ambalat Ltd.

Potensi minyak di Laut Sulawesi ini juga sudah terbukti sejak 1967, saat Indonesia pertama kali melakukan kegiatan perminyakan dengan dibukanya kontrak wilayah kerja Total Indonesie untuk Blok Bunyu. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa kontrak di antaranya BP-British Petroleum pada 1970 untuk wilayah kerja Blok North East Kalimantan Offshore; Hadson Bunyu BV mendapatkan area Blok Bunyu pada 1985; dan Eni Bukat Ltd. mendapatkan Blok Bukat pada 1988.

Jadi, sudah lebih dari 30 tahun silam, Indonesia melakukan eksplorasi di sini. Karena itu, Indonesia beranggapan East Ambalat masih berada di wilayah Indonesia. "Itu masuk teritori kami," ujar Purnomo Yusgiantoro Menteri Pertambangan dan Energi, pekan lalu. "Jadi, Malaysia harus menghormati batas negara."

Karena itu, Indonesia tetap akan melakukan eksplorasi minyak di East Ambalat. "Kalau tak yakin wilayah itu milik Indonesia, pemerintah tak mungkin melakukan tender blok," ujar Novian Thayib. "Ini bukan sekadar soal perebutan minyak, tetapi juga kedaulatan negara."

Namun, Malaysia beranggapan sebaliknya. Malaysia mengajukan klaim atas wilayah tersebut setelah pada 2002 International Court of Justice (ICJ) memutuskan bahwa dua pulau di wilayah itu, yakni Sipadan dan Ligitan milik Malaysia. Klaim Malaysia juga didasarkan pada peta yang dibuat secara sepihak pada 1979.

Atas dasar itu, melalui Petronas, Malaysia telah memberikan hak konsesi ladang minyak Ambalat kepada perusahaan minyak Shell pada 28 Februari 2005. ?Petronas tahu bahwa itu masuk teritori kami. Jika ada orang lain yang merasa memiliki, mengapa Petronas pergi ke sana?? ujar Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad badawi pekan lalu.

Heri Susanto/Retno Sulistiyowati-Tempo