Profil: Tunisia

Kamis, 08 Juni 2006 | 15:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kesebelasan berjuluk The Carthage Eagles terbang ke Jerman dari Bandara Carthage, Tunis, Ahad lalu. Puluhan pendukungnya mengantar sampai ke bandara. "Kami memiliki kepercayaan besar terhadap tim kami, saya kira mereka bisa melangkah ke putaran kedua," kata seorang pendukung bernama Foued.

Lolos ke babak kedua berarti mengulang prestasi Tunisia pada Piala Dunia 1994. Sukses tersebut tak pernah lagi diraih dalam dua pergelaran berikutnya. Kejuaraan di Jerman ini menjadi keberhasilan Tunisia untuk keempat kalinya berturut-turut lolos ke putaran final.

"Kami tahu misi kami memang berat," kata pemain belakang paling ternama Tunisia, Hatem Trabelsi. "Tapi kami tahu bahwa kami mempunyai kemampuan teknik yang cukup untuk bersaing di kejuaraan ini," ujar stopper yang bermain untuk Ajax Amsterdam tersebut.

Tunisia lolos ke Jerman setelah menyingkirkan Maroko, Kenya, Guinea, Malawi, dan Bostswana di babak kualifikasi. Pada tiga uji coba terakhir, tim asuhan pelatih asal Prancis Roger Lemerre ini sekali kalah, sekali menang, dan sekali seri. Kalah 0-1 dari Serbia-Montenegro, lantas menang 3-0 atas Belarusia, dan seri 0-0 dengan Uruguay.

Meski bermaterikan pemain yang di atas kertas masih kalah dari Pantai Gading dan Ghana, Tunisia memiliki beberapa pemain yang bermain di Eropa. Mereka antara lain Ziad Jaziri (Gaziantepspor, Turki), Francileudo dos Santos (Toulose, Prancis), Adel Chadli (Istres, Prancis), Mahdi Nafti (Birmingham, Inggris), dan Hatem Trabelsi (Ajax, Belanda).

Di lini belakang Tunisia ada "tembok" bernama Trabelsi dan di lini depan ada penyerang berpengalaman, Santos. Pemain terakhir ini seorang Brasil yang telah mendapat kewarganegaraan Tunisia. Untuk posisi playmaker, Lemerre punya dua bintang yang berkemampuan seimbang. Di babak kualifikasi ada Selim Benachour, kali ini tak dipanggil, dan Hamed Namouchi (Rangers, Skotlandia) yang dipakai pada Piala Afrika.

Kebanyakan tim Afrika mengacu pada sepak bola Brasil, itu termasuk empat wakil Afrika selain Tunisia: Ghana, Pantai Gading, Togo, dan Angola. Mereka adalah negara dari Afrika Tengah dan Barat. Gaya Samba Brasil mengandalkan teknik individu pemain dan permainan mengalir.

Tunisia yang dari Afrika Utara lebih mendekati gaya Eropa, yaitu sangat tersistem, berbasis pertahanan, baru menyerang bila ada kesempatan. Gaya Eropa lebih efisien daripada Amerika Latin yang diwakili Brasil.
Lemerre, 55 tahun, sudah empat tahun menangani Tunisia sejak mundur dari jabatan pelatih tim nasional Prancis. Reputasinya yang hancur seusai Piala Dunia 2002 terangkat kembali dengan membawa Tunisia menjuarai Piala Afrika 2004.

l AFP | SOCCERNET | ANDY MARHAENDRA