Senjata Negosiasi Indonesia
Kamis, 26 April 2007 | 13:35 WIB
Isu ekstradisi sempat memanas sejak krisis ekonomi 1998, saat Indonesia menuduh Singapura melindungi para pengusaha hitam dan memanfaatkan uang mereka. Dulu Negeri Singa ini menolak perjanjian itu, salah satunya karena impor pasir dari Indonesia dilarang.
Singapura, yang awalnya ngotot menolak perjanjian ekstradisi, akhirnya melunak. Inilah "senjata" untuk menekan Singapura:
1. Tempat Latihan Militer
Singapura bisa berlatih kembali di Area Latihan Militer (Military Training Area) yang disepakati dengan Indonesia setelah dihentikan pada 2003. Singapura negeri kecil, sulit berlatih militer. Kurang dari tiga menit setelah tinggal landas, pesawat Singapura sudah masuk ke wilayah negara lain seperti Indonesia.
Singapura juga diizinkan mengajak negara ketiga, seperti Amerika Serikat atau Australia, dalam latihan ini, asalkan mendapat izin Indonesia.
Inilah daerah latihan Singapura:
a. Military Training Area 1
Sekitar Tanjung Pinang. Kesepakatan lama, pesawat Singapura bisa melakukan uji terhadap paling banyak 15 pesawat yang terbang bersamaan dan paling banyak 40 yang tinggal landas sehari.
b. Military Training Area 2
Sekitar Laut Cina Selatan. Selain pesawat terbang, kapal tempur Singapura juga boleh berlatih. Di Area 2, maksimum 20 pesawat terbang bersamaan, dan sehari maksimum 60 penerbangan.
2. Ekspor Pasir Laut - Dihentikan pada 2003
Singapura menuding Indonesia memanfaatkan isu pasir laut untuk menekan agar perjanjian ekstradisi ditandatangani. Singapura terpukul oleh larangan ekspor pasir di Indonesia. Kini Singapura mengimpor pasir dari Myanmar, yang harganya jauh lebih mahal. Setelah perjanjian ini, belum diketahui apakah Indonesia membuka keran ekspor pasir kembali.
Sumber: Koran Tempo


