Jalan Buntu di Grati
Selasa, 05 Juni 2007 | 12:11 WIB
Pertemuan antara warga Alas Tlogo dan TNI Angkatan Laut untuk menyelesaikan masalah sengketa tanah di Grati, Pasuruan, berakhir buntu. Perundingan, yang digelar pascainsiden penembakan oleh anggota marinir hingga menewaskan empat warga desa, itu tidak membuahkan hasil karena kedua pihak berkukuh pada pendirian masing-masing. Warga menuntut Pusat Latihan Tempur di Grati dipindahkan ke luar Pasuruan. Adapun TNI AL tetap menawarkan kompensasi warga yang dipindahkan berupa tanah 500 meter persegi dan uang Rp 10 juta untuk membangun rumah.
TUNTUTAN WARGA
1. Tanah seluas 3.676 hektare di 11 desa dikembalikan kepada rakyat.
2. Sertifikat hak pakai yang diberikan kepada TNI AL segera dibatalkan.
3. Pusat Latihan Tempur TNI AL di Grati dipindahkan ke luar Pasuruan
4. Proses jual-beli lahan yang pernah terjadi dengan TNI AL ditinjau ulang.
5. Pengungkapan dokumen surat-surat tanah palsu yang dijadikan bukti oleh pihak militer.
TAWARAN TNI AL
1. Rencana ulang tata ruang lahan.
2. Relokasi warga (masing-masing keluarga diberi tanah 500 meter persegi ditambah dana pembangunan rumah Rp 10 juta). Total tanah yang diperuntukkan bagi warga 420 hektare, termasuk untuk fasilitas umum 20 hektare dan tanah bengkok 70 hektare.
3. Korban penembakan, Choirul bin Sutrisno, 3 tahun, menjadi anak angkat pemimpin TNI AL.
4. Pengobatan gratis warga korban bentrokan.
Kutipan
"Tak mungkin TNI AL melepas, karena tanah itu akan dipakai latihan."
-- Jusuf Kalla, Wakil Presiden
"Kalau kami hanya dapat tanah 500 meter, kami makan dari mana"
-- Purwo Eko, Kepala Desa Sumberanyar, Nguling
Sumber: Koran Tempo


