|
Kuartet Jutaan Dolar
Jum'at, 15 Juni 2007 | 10:47 WIB
Pekerjaan rumah polisi masih berderet setelah Abu Dujana dapat ditangkap. Empat pentolan Jamaah Islamiyah lainnya, Noor Din M. Top, Dzulkarnain, Umar Patek, dan Dulmatin, masih menghirup udara bebas. Menurut polisi, sepak terjang keempat orang ini bisa jadi lebih berbahaya ketimbang Dujana. Aparat keamanan menyediakan hadiah Rp 500 juta sampai US$ 10 juta jika ada yang berhasil menangkap mereka.
Dulmatin
Inilah tersangka teroris paling mahal. Amerika menghargai nyawanya US$ 10 juta karena keterlibatannya dalam Bom Bali I. Setelah pengeboman itu, laki-laki 37 tahun ini lari ke Filipina Selatan. Mei lalu ia nyaris disergap tentara Filipina di Provinsi Tawi-tawi. Ia lolos, tapi empat anaknya tertinggal dan diekstradisi ke Indonesia.
Noor Din M. Top
Bersama Dr Azahari, Noor Din M. Top, 39 tahun, pernah menjadi teroris paling dicari di Indonesia. Duet Malaysia ini oleh polisi disangka berada di belakang semua pengeboman sejak Bom Bali I. Setelah Azahari tewas dalam penyergapan di Batu, Jawa Timur, Noor Din disebut-sebut berada di bawah perlindungan Dujana.
Dzulkarnain
Inilah tokoh senior di Jamaah Islamiyah. Laki-laki asal Sragen ini adalah angkatan pertama Akademi Militer Mujahidin Afganistan dan dianggap salah satu otak Bom Bali I. Menurut tersangka teroris yang tertangkap Maret lalu, Dzulkarnain--biasa dipanggil "Mbah"--terlihat dalam latihan perang di Gunung Sumbing pada awal tahun ini.
Umar Patek
Pria berumur 37 tahun ini dihargai pemerintah AS sebesar US$ 1 juta karena keterlibatannya sebagai koordinator lapangan dalam Bom Bali I. Setelah pengeboman itu, ia bersama Dulmatin lari ke Filipina dan menjadi buron paling dicari di sana. Mereka bergabung dengan kelompok separatis di Mindanao.
Sumber: Koran Tempo
|