close

Menengok Kembali Marriott

Selasa, 19 Juni 2007 | 11:26 WIB


Abu Dujana alias Yusron Mahmudi menyebut Noor Din Mohammad Top sebagai pelaku peledakan bom Hotel JW Marriott di Jalan H R. Rasuna Said pada 5 Agustus 2003.
Pemimpin tertinggi dalam Jamaah Islamiyah itu mengaku tidak setuju terhadap aksi Noor Din.

Abu Dujana, yang dituding terlibat dalam serangkaian peledakan bom di Indonesia, mengisahkan adanya sebuah pertemuan sebelum peledakan Marriott. Ketika itu Noor Din membawa sejumlah orang dari Sumatera, yang emudian diketahui sebagai pelaksana peledakan bom di Marriot.

Peristiwa Bom Marriot
Lokasi: Hotel JW Marriott, Jakarta.
Waktu kejadian: 5 Agustus 2003.
Operasi: Bom bunuh diri dengan menggunakan mobil Toyota Kijang.
Bahan peledak: CLO3, bubuk aluminium, TNT, detonator, dan sumbu peledak.
Korban: 13 tewas, 152 cedera, 22 mobil hancur.

PELAKU:

Otak:
-Noor Din M. Top (buron)
-Dr Azahari (tewas)
-Dulmatin (buron). Dicurigai bersama Azahari dan Noor Din berada di Bengkulu sebelum peledakan. "Si genius dari Bengkulu" ini terlihat di kios fotokopi di dekat Universitas Bengkulu.
-Sunarto bin Kartohadi alias Adung, diduga Amir JI (ditangkap pada 2004).

Penyandang dana:
-Hambali (ditangkap Amerika Serikat). Diduga mengirimkan dana US$ 45 ribu kepada salah satu tersangka bom JW Marriott.
-Gun Gun Rusman Gunawan (empat tahun penjara). Adik Hambali ini terbukti telah mengumpulkan dana bagi peledakan Marriott. Uang yang terkumpul untuk operasi peledakan dibagikan Noor Din kepada Azahari, Ismail, Tohir, dan Asmar Latin Sani. Sebagian uang digunakan untuk membayar rumah kontrakan, sepeda motor untuk survei lokasi peledakan, dan membeli mobil Kijang untuk meledakkan Marriott.


Pelaku lapangan:
Sebagian besar adalah kelompok Bengkulu dan Pekanbaru.
1. Asmar Latin Sani (tewas dalam operasi peledakan bunuh diri).
2. Mohamad Rais alias Erwin Darmawan (7 tahun penjara). Membawa bahan peledak dari Pekanbaru ke Bengkulu dan merekrut Asmar.
3. Ismail alias Mohamad Ikhwan/Agus/Iwan/Ridwan/Zaky/Arief (vonis 12 tahun). Berboncengan dengan Azahari menyurvei Marriott dan mengawal Kijang berisi bom.
4. Masrizal alias Mas'ud/Hariyadi/Tohir/Deri/Reno/Ari/Ricky (penjara 10 tahun). Menyurvei Marriott bersama Noor Din sehari sebelum peledakan. Ikut merakit bom.
5. Mohamad Ihsan alias Idris/Joni Hendrawan/Gembrot/Ajo (10 tahun penjara). Mendistribusikan bahan peledak.
6. Sardona Siliwangi bin Azwar (10 tahun penjara). Ikut menyimpan bahan peledak di Bengkulu.
7. Suprapto (7 tahun penjara). Menyimpan bahan peledak.
8. Muhammad Solihin (7 tahun penjara). Menyimpan bahan peledak.
9. Heru Setyanto (7 tahun penjara). Menyimpan bahan peledak.
10. Malikul Zurkoni (3 tahun penjara). Membantu memindahkan 6 karung bahan peledak dari rumahnya di Pekanbaru.
11. Solihin (3,5 tahun penjara). Mengikuti serangkaian pertemuan penting di Pondok Gede, Ciawi, Semarang, dan Solo, untuk merencanakan peledakan.
12. Slamet Widodo alias Pepeng (3 tahun penjara). Anggota tim logistik.
13. Lutfi Fadilah alias Zubair (3 tahun penjara). Menyembunyikan informasi soal ledakan.

Apakah Abu Bakar Ba'asyir terlibat?
Abu Bakar Ba'asyir pernah didakwa mendalangi sejumlah peledakan, termasuk Marriott. Namun, M. Rais dalam sidang menyangkal keterlibatan Abu Bakar. "Perbuatan ini adalah inisiatif kami (Rais, Noor Din, dan Azahari) untuk balas dendam kepada Amerika."

Di Mana Peranan Abu Dujana?
Dua bulan sebelum peledakan Marriott, Noor Din mengundang Dujana dari Sekretaris Markaziyah dalam pertemuan di Lampung. Beberapa hari setelah peledakan, mereka kembali berkumpul di Bandung. Semula polisi menduga pertemuan itu adalah bentuk restu Jamaah Islamiyah kepada Noor Din dan Azahari untuk meledakkan Marriott. Tapi hal itu dibantah oleh Abu Dujana. Ia mengaku hanya mengantarkan salah seorang anggota JI. "(Dalam pertemuan itu) saya diam saja. Saya sudah marah dengan tindakan Noor Din," kata Abu Dujana kepada Tempo.



Sumber: Koran Tempo