Selamat Tinggal Partai
Rabu, 25 Juli 2007 | 10:44 WIB
Yang ditunggu-tunggu banyak orang akhirnya tiba juga: kebolehan calon yang tak didukung partai alias calon independen maju menjadi calon kepala daerah atau presiden. Mahkamah Konstitusilah yang membuka keran ini dua hari lalu. Keputusan ini ternyata klop dengan keinginan sebagian besar masyarakat. Menurut survei, mereka sangat mendukung calon independen. Fenomena ini bisa berarti bahwa sebagian masyarakat sudah kapok dengan calon dari partai. Sampai Februari 2008, bakal ada 14 pemilihan gubernur. Ini bakal menguatkan atau malah mengganggu sistem demokrasi?
++++++
Hasil Survei LSI
Calon Presiden Independen
- Yang mendukung 68,8 persen
- Tidak mendukung 20,2 persen
- Abstain 10,9 persen
Calon Gubernur Independen
- Yang mendukung 70,3 persen
- Tidak mendukung 17,8 persen
- Abstain 11,1 persen
Calon Bupati atau Wali Kota Independen
- Yang mendukung 70,3 persen
- Tidak mendukung 17,5 persen
- Abstain 12,2 persen
+++++++
Kapok dengan Partai
Tingginya dukungan terhadap calon independen ini karena masyarakat tidak puas dengan proses demokrasi dan kinerja partai politik selama ini. Selain itu, waspadalah elite partai besar yang tidak suka calon independen. Mayoritas pemilih mereka-di atas 60 persen-ternyata sangat mendukung calon independen.
+++++++++
Pro-Kontra Pemimpin Independen
Kontra
-- Kemungkinan bentrok dengan Dewan Perwakilan Rakyat makin besar.
Pro
-- Partai berusaha memilih calon yang disukai rakyat, bukan disukai elite partai.
-- Legitimasi pemimpin lebih besar.
-- Bisa jadi katup pengaman demokrasi karena ketakpuasan rakyat terhadap partai.
+++++++
Peluang
Pengalaman Amerika Serikat memperlihatkan sulitnya calon independen menang dalam pemilihan presiden. Sepanjang sejarah Amerika, hanya George Washington yang bisa menjadi presiden tanpa lewat partai. Apalagi ada mekanisme pemilihan pendahuluan guna menentukan calon partai dalam pemilihan presiden--untuk menjamin aspirasi rakyat. Tak pelak calon independen, seperti Ross Perot atau Ralph Nader, hanya menjadi semacam penggembira, walaupun mereka punya banyak duit. Di politik lokal, independen bisa menang, meski sepanjang sejarah, baru tiga gubernur nonpartai yang terpilih.
Sumber: Koran Tempo


