Lalai Membalas Surat
Jum'at, 27 Juli 2007 | 09:54 WIB
Pemerintah Indonesia tak hanya gagal menjamin keamanan penerbangan, tapi juga lalai melaporkan perbaikan kebijakan kepada sejumlah sejawat. Pemerintah Indonesia terlambat menanggapi surat dari Uni Eropa sehingga kawasan kaya itu melarang pesawat Indonesia terbang ke wilayah tersebut. Inilah kronologi kelalaian yang berakibat fatal:
16 April
Direktorat Jenderal Energi dan Transportasi Uni Eropa mengirim surat, meminta penjelasan keamanan penerbangan, kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan. Uni Eropa tidak mendapat balasan.
21 Mei
Komisi Uni Eropa mengirim surat kedua dengan isi sama. Surat itu mesti dijawab sebelum 30 Mei. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Budhi Muliawan Suyitno membalas surat itu. Menurut Duta Besar Indonesia untuk Uni Eropa, Riphat Koesoema, surat itu terlambat dibalas.
22 Juni
Indonesia mengirim delegasi untuk memberikan penjelasan, tapi tidak mendapat waktu berbicara dengan Dewan Penasihat Komisi Eropa.
28 Juni
Komisi Eropa melarang 51 maskapai penerbangan Indonesia terbang ke Uni Eropa mulai 6 Juli. Larangan juga berlaku bagi sejumlah maskapai asal Rusia, Angola, Bulgaria, dan Moldova.
26 Juli
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengisyaratkan akan memecat Budhi Muliawan Suyitno
+++++++++++
Daftar Hitam Uni Eropa
Nasib penerbangan sipil Indonesia, yang dalam semester pertama 2007 sudah kehilangan Boeing 737 milik Garuda dan Adam Air dengan korban total mencapai 122 jiwa, seperti transportasi udara di Afrika. Dilarang terbang ke Uni Eropa.
Asia
-- Indonesia (51 maskapai)
-- Kyrgyztan (25 maskapai)
-- Afganistan, Bangladesh, Korea Utara, dan Pakistan, Suriname, Ukraina, Angola, Comoro, Rwanda dan Sudan.
(Masing-masing 1 maskapai).
Afrika
-- Kongo
Seluruh maskapai (51 maskapai)
-- Guinea Khatulistiwa (5 maskapai)
-- Liberia (Seluruh maskapai)
-- Sierra Leone(8 maskapai)
-- Swaziland (6 maskapai)
Skor Keamanan Penerbangan
Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) membuat skor keamanan penerbangan. Skor Indonesia memprihatinkan.
Ideal: 0,35
Indonesia: 1,3
Cina (terbaik dunia): 0,0
Eropa: 0,3
Amerika Serikat: 0,2
Timur Tengah: 3,8
Amerika Latin: 2,6
Internasional: 0,6
Sumber: Koran Tempo




