Misteri Racun di Changi
Kamis, 23 Agustus 2007 | 12:31 WIB
Racun arsenik di tubuh Munir, aktivis hak asasi manusia yang meninggal pada 2004, besar kemungkinan masuk ke tubuh saat ia transit di Singapura dalam perjalanan pesawat Garuda dari Jakarta menuju Amsterdam. Misteri pembunuhan Munir bisa terungkap jika bisa dipastikan dengan siapa saja penggiat hak asasi manusia itu mengisi waktu saat transit.
Sidang peninjauan kembali keputusan Mahkamah Agung, yang dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kemarin, mengandalkan kesaksian baru, terutama dari Ongen, yang menyatakan melihat Pollycarpus memberikan minuman kepada Munir. Tapi, dalam sidang kemarin, Ongen mencabut kesaksian itu dengan alasan ditekan polisi saat pemeriksaan.
Raymond J.J. Latuihamallo alias Ongen
Versi Pengadilan
Ongen memesan teh untuk minum obat di Coffee Bean saat transit di Singapura. Posisinya hanya berjarak sekitar dua meter dari Munir. Munir, kata Ongen, bersama seorang laki-laki, tapi bukan Pollycarpus. Malah Ongen mengatakan tidak melihat Pollycarpus di Changi. "Saya melihat seorang laki-laki, tapi bukan dia," kata Ongen sambil menghadap ke Pollycarpus, yang hadir dalam persidangan kemarin.
Versi Berita Acara Pemeriksaan
Ongen melihat Pollycarpus membawa minuman dan diberikan kepada Munir. Sambil minum, Ongen mengaku melihat Munir bercakap-cakap dengan Pollycarpus.
Asrini Utami Putri
Penumpang Garuda yang Duduk di Depan Munir
Asrini melihat Pollycarpus, Ongen, dan Munir di Coffee Bean selama sekitar 10 detik saat ia melewati mereka. "Mereka duduk bertiga dan sedang mengobrol." Asrini hafal wajah Pollycarpus karena kantong matanya lebih gelap dari kulitnya. Ongen, seusai sidang, mengatakan mungkin Asrini salah lihat.
Asrini juga ingat wajah Ongen di Changi dari rambut panjangnya. Belakangan, saat di ruang tunggu, Asrini dikenalkan dengan Ongen oleh Joseph Ririmesa, calon Station Manager Garuda di Amsterdam. Ongen mengaku dikenalkan dengan seorang perempuan, tapi tidak ingat apakah ia Asrini.
++++++++++++=
Kutipan
"Bapak ini dicari, agar SBY tidak diubek-ubek. Dia bilang ini sebentar saja. Makanya si petruk, Abdul Rahman (Saleh, Jaksa Agung) itu, diganti. Yang ganti itu orang kita. Bagir (Manan, Ketua Mahkamah Agung) itu orang kita. Jadi tenang saja, Pak."
Perkataan Pollycarpus saat menelepon Indra Setiawan, mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, yang ditirukan Indra.
Sumber: Koran Tempo


