Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Narasi  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Kemarahan Setelah Pengeroyokan
Rabu, 29 Agustus 2007 | 10:32 WIB


Insiden pengeroyokan wasit karate Indonesia, Donald Luther Colopita, oleh empat anggota kepolisian Malaysia, masih berbuntut panjang. Sejumlah pejabat mengeluarkan kecaman keras atas kejadian itu. Inilah kronologi dan komentar para pejabat teras.

1. Jumat, 24 Agustus, dini hari
Donald Pieters Luther Colopita baru melangkah sekitar 60 meter dari Hotel Alison Kelana di daerah Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia. Ia hendak kembali ke penginapannya, setelah menghadiri pertemuan wasit karate se-Asia pada Kejuaraan Karate Asia di Malaysia.

2. Empat polisi berpakaian preman mendatanginya. Mereka menduga dirinya pendatang ilegal asal Indonesia.

3. Donald menjelaskan dan melawan karena mereka tidak menunjukkan identitas sebagai polisi. Setelah tahu mereka polisi, Donald menyerah dan diborgol.

4. Dalam perjalanan menuju kantor polisi, Donald yang terborgol digebuki.

Versi Malaysia:
Menurut Kepala Polisi Diraja Malaysia Tan Sri Musa Hasan, Jumat dini hari itu, polisi sedang gencar melaksanakan operasi untuk menekan angka kriminal. Donald melawan polisi saat akan diperiksa dan dibawa ke kantor polisi.
Tan memastikan akan meneruskan penyelidikan ini. "Dua hari lagi selesai dan akan diajukan ke pengadilan," ujarnya kemarin.

Kutipan
"Ini sangat keterlaluan."
- Luhut B. Panjaitan (Ketua Kontingen Karateka Indonesia)
Indonesia memutuskan menarik seluruh tim dari kejuaraan karate Asia yang diikuti sekitar 20 negara.

"Pendatang haram atau binatang pun tidak boleh dibegitukan. Kita akan protes keras."
- Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault

"Saya tidak bisa memaksa pemerintah Malaysia atau polisi Malaysia minta maaf dalam hal seperti ini. Tapi waktu terjadi bencana asap tahun lalu, dengan jiwa besar saat itu saya minta maaf."
- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

"Saya pikir yang paling penting ialah sikap Kerajaan Malaysia terhadap kejadian. Sikap kami, kejadian itu perlu diberikan pengadilan yang secukupnya."
- Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Syed Hamid Albar, setelah bertemu dengan Presiden Yudhoyono di Jakarta kemarin sore. Ia enggan meminta maaf.

Sumber: Koran Tempo


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Penembak di Serawak Belum Pasti Warga Indonesia
Menhan: Malaysia 38 Kali Langgar Tapal Batas
Pemerintah Diminta Tegas terhadap Malaysia
Malaysia-Singapura Kurangi Asap Sumatera
Bermaksud Melerai, Tewas Dikeroyok
Warga Korea Babak Belur Dikeroyok
Presiden Harapkan Kerja Sama Lebih Erat Dengan Malaysia
Malaysia Perkuat Armada Jet Tempur
PM Malaysia Terima Penghargaan dari Indonesia
Berebut Uang Setoran, Preman Dibacok
> selengkapnya...

Referensi

Panas Jakarta-Kuala Lumpur
Kemarahan Setelah Pengeroyokan
Negara Berpagar Belasan Ribu Pulau
Ladang Minyak yang Diperebutkan Dua Negara
Babak Baru Sengketa Negeri Serumpun
Perimbangan Kekuatan Indonesia-Malaysia
Pulau-pulau kecil
ARMADA
Tumpang tindih lahan minyak

Website

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)
The ASEAN Secretariat

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] nrs01 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Petani Nganjuk Temukan Benda Purbakala di Ladang
Kehilangan Hak Pilih, Ratusan Warga Wangaya Kelod Protes TPS
HP Luncurkan Tinta dan Toner Baru
Masak Pakai Sampah
Antre Minyak

<< August,2007>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data