Hujan Petaka di Kaki Lawu
Sabtu, 29 Desember 2007 | 13:05 WIB
Tawangmangu, tempat tetirah yang dingin bagi warga Surakarta dan sekitarnya, tidak lagi riang kemarin. Hujan dua hari dua malam menggerus lereng Gunung Lawu sehingga tanah bercampur bebatuan itu ambruk mengubur 36 orang. Di wilayah lain, lereng Lawu yang longsor pada malam itu menewaskan 22 orang lainnya.
TERKUBUR
Dusun Mogol, Desa Ledoksari, Tawangmangu menjadi tempat paling memilukan. Sebanyak 37 orang dilaporkan terkubur pada 26 Desember dini hari.
Pukul 02.00 WIB
Longsor pertama menimpa lima rumah dan menutupi jalan sampai selutut. Warga langsung bekerja bakti membersihkan tanah longsoran.
Pukul 04.00 WIB
Warga yang bekerja bakti beristirahat di rumah Wardi. Tiba-tiba lereng setinggi 50 meter runtuh. Rumah Wardi ikut tertimbun. Sebanyak 15 orang dari tiga keluarga tewas di rumah ini.
Pukul 11.00 WIB
Korban pertama ditemukan: pasangan ibu dan anak yang berpelukan.
Metesih
3 tewas
Jumapolo
8 tewas
Jenawi
3 tewas
Kerjo
5 tewas
Ngargoyoso
1 tewas
Jatiyoso
1 tewas
MENGAPA LONGSOR
Pola Hujan Berubah
Tanah longsor ini disebabkan oleh pola hujan yang berubah. Tahun ini curah hujannya tinggi dalam waktu yang pendek. Sebelum terjadi bencana, curah hujan mencapai 80 milimeter per hari.
Tanah
Terdiri atas endapan bekas muntahan vulkanik Gunung Lawu. Tanah berbatu seperti ini gampang dipisah air hujan. Daerah ini rawan longsor.
Zona Gerakan Tanah
Wilayah bencana terletak di tanah dengan tingkat kerentanan bergerak menengah-tinggi.
++++
MUSIBAH TETANGGA
Bencana seperti ini sudah muncul sehari sebelumnya di tetangga Karanganyar, yakni Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Empat orang tewas.
+++++
PETA DAERAH BANJIR (menyusul)
<
sumber: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
NASKAH: NK | IMRON ROSYID | AHMAD FIKRI


