Black Tuesday
Rabu, 23 Januari 2008 | 12:19 WIB
Indeks harga saham di Bursa Efek Jakarta menikmati masa emas selama lima tahun terakhir. Politik stabil, rencana ekonomi yang mapan membuat berkali-kali harga saham menembus rekor baru.
Dari titik terendah pada 1998 yang indeks harga sahamnya cuma 292 poin, awal tahun ini melambung hingga di atas 2000. Banyak investor menangguk untung. Tapi ancaman resesi Amerika Serikat mengerem euforia bursa Jakarta. Kemarin menjadi "Black Tuesday", para investor rugi triliunan.
22 Des 1988
11,74 persen
12 Apr 1989
12,33 persen
04 Agt 1989
20,17 persen
28 Okt 1997
8,59 persen
Bulan ini rupiah anjlok di bawah batas psikologis Rp 4.000 untuk setiap dolar.
08 Jan 1998
11,95 persen
Rupiah menembus batas psikologis Rp 10 ribu untuk setiap dolar dan anggaran pemerintah dianggap tidak realistis.
12 Feb 1998
9,29 persen
Harga barang melambung tinggi, kerusuhan terjadi di sejumlah kota di Jawa Barat. Toko di Bandung ditutup.
15 Sep 1998
8,87 persen
Bursa saham mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Indeks hanya 292 poin. Kerusuhan terjadi di Riau, Jambi, dan Sulawesi Selatan.
25 Nov 1998
7,78 persen
14 Okt 2002
10,36 persen
Bom Bali I.
22 Jan 08
7,7 persen
Kecemasan Amerika Serikat akan mengalami resesi.
Semua Turun
Ekonomi Amerika menyeret bursa-bursa seluruh dunia berguguran.
Hong Kong 8,7 persen
Australia 7,1 persen
Shanghai, Cina 7,0 persen
Jepang 5,7 persen
Korea Selatan 4,4 persen
Malaysia 3,8 persen
Singapura 1,7 persen
Frankfurt, Jerman 7,1 persen
Paris 6,8 persen
Sao Paulo, Brasil 6,0 persen
London 5,4 persen
Meksiko 4,8 persen
Argentina 4,7 persen
*Bursa kemarin, kecuali London, Paris, Jerman, Brasil, Argentina, dan Meksiko yang muncul pada Senin (21 Januari).
Sumber: Koran Tempo





