Ahli Waris Trah Cendana

Rabu, 06 Februari 2008 | 12:51 WIB

Dia mewarisi bakat-bakat Soeharto. Caranya tampil, perkataannya yang halus, senyumnya kepada para wartawan, dan kebiasaan menyodorkan keramahan di acara amal, semuanya mirip gaya Soeharto. Siti Hardijanti Rukmana adalah satu-satunya anak Soeharto yang mengkilap namanya di panggung politik.

Dulu namanya berkibar saat dia aktif di Partai Golkar dan menggelar Kirab Remaja Nasional, yang diikuti jutaan orang. Yang terakhir, saat ayahnya meninggal, ia muncul sebagai seorang anak yang sangat berbakti. Lalu sejumlah petinggi Golkar pun berniat menggandeng Mbak Tutut untuk menjadi calon presiden.

+++++++++++

Hanya Satu Persen

Jika pemilihan presiden dilaksanakan bulan lalu, peluang Siti Hardijanti Rukmana bisa menang hanya 1 persen. Benar: 1 persen. Ini berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia bulan lalu.

Susilo Bambang Yudhoyono
34 persen

Megawati Soekarnoputri
24 persen

Sultan Hamengku Buwono X
7 persen

Wiranto
4 persen

Amien Rais
3 persen

Jusuf Kalla
2 persen

Sutiyoso
2 persen

Siti Hardijanti Rukmana
1 persen

+++++++++++++

PERJALANAN MBAK TUTUT
1949
23 Januari, lahir di Yogyakarta.

1980
Mendirikan Citra Lamtoro Gung, yang kemudian menjadi operator jalan tol swasta pertama di Indonesia.

1989
Menjadi Ketua Umum Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia.

1990
Menggelar acara tahunan Kirab Remaja Nasional, yang diikuti jutaan orang.

1990
Terpilih sebagai Presiden Organisasi Federasi Donor Darah Internasional (IFBDO) sampai 1996. Ia terpilih setelah di dalam negeri memimpin Persatuan Donor Darah Indonesia.

1991
Mendirikan stasiun televisi TPI dan stasiun TV itu diizinkan menggunakan fasilitas TVRI dengan gratis.

1993
Menjadi salah satu Ketua DPP Golkar.

1998
Menjadi Menteri Sosial. Ia terkenal karena membagikan nasi bungkus dan menggelar kampanye cinta rupiah saat krisis ekonomi. Jabatan ini hanya bertahan dua bulan karena Soeharto lengser.

2004
Ikut membidani Partai Karya Peduli Bangsa dan disebut sebagai calon presiden dari partai ini.

2008
-- Tampil menjadi wakil Keluarga Cendana saat Soeharto meninggal dunia. Ia beberapa kali secara resmi meminta ayahnya dimaafkan.
-- Partai Golkar menyatakan Tutut masih anggota dan ada suara menjadikannya salah satu calon presiden.

+++++++++++


Sumber: Koran Tempo