Empat Kasus

Selasa, 11 Maret 2008 | 10:31 WIB

Komisi hak asasi manusia akan menyelisik lagi empat kasus pelanggaran hak asasi di era Soeharto berkuasa, yaitu korban 1965, penembakan misterius, serta daerah operasi militer di Papua dan Aceh. Tapi kasus pelanggaran hak asasi tidak hanya itu. Berikut ini sejumlah kasus berat.

1965-1970
Pembunuhan orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Jumlah korban simpang-siur. Angka paling dramatis, 1,5 juta orang.

1974-1999
Korban invasi Indonesia ke Timor Timur. Korban tewas diperkirakan 102 ribu orang, 18.600 di antaranya korban langsung konflik.

1978-1998
Operasi militer di Papua, jumlah korban tidak jelas. Tapi perhitungan sementara mencatat setidaknya lebih dari 900 orang tewas.

1982-1983
Bromocorah yang sebagian besar bertato dieksekusi tanpa pengadilan dan mayatnya dibuang ke tempat umum. Korban 1.678 orang.

1984
Tentara menembaki warga yang menggelar unjuk rasa. Versi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, setidaknya 24 orang tewas, di luar 9 warga lain yang tewas di tangan massa.

1989
Polisi dan tentara menyerbu kelompok pengajian di Dukuh Talangsari III, Lampung. Versi pemerintah, korban 27 orang. Versi LSM Komite Smalam, 246 tewas.

1970-1998
Aceh dijadikan daerah operasi militer. Perhitungan konservatif pemerintah provinsi, 871 tewas dan 500 hilang. LSM menghitung setidaknya dua kali angka itu.

1991
Tentara menembaki pengunjuk rasa dekat pemakaman Santa Cruz, Dili. Versi TNI, 19 tewas. Versi LSM, setidaknya 271 tewas.

1996
Empat warga tewas di tangan aparat saat memprotes berdirinya Waduk Nipah di Madura.

1997
Puluhan tokoh masyarakat dibunuh di Jawa Timur dengan tuduhan dukun santet.

1998
-- Penculikan aktivis, 23 orang hilang.
-- Kerusuhan Mei di sejumlah kota. Di Jakarta saja, setidaknya 1.300 orang tewas.

Sumber: Koran Tempo