Siapa Memulai Petaka
Selasa, 27 Mei 2008 | 11:19 WIB
Demo menentang kenaikan harga bahan bakar minyak di Universitas Nasional (Unas), Jakarta, yang yang berakhir dengan penyerbuan polisi pada 23 sampai 24 Mei lalu menyisakan kontroversi: siapa yang bersalah? Polisi menuding demo itu ditunggangi pihak ketiga dan anarkistis. Para mahasiswa tak cuma membantah, mereka juga menunjukkan banyak fakta bahwa aparat bertindak berlebihan. Berikut ini dua cerita mereka.
Jumat, 23 Mei
1. Pukul 20.00
20 mahasiswa Unas menggelar aksi damai dengan menyalakan lilin dan berorasi di dalam kampus. Polisi adem ayem berjaga di luar.
2. Pukul 20.30
Aksi berpindah ke tugu Unas. Massa menjadi 35 orang. Hingga pukul 22.00, pengunjuk rasa bergerak memasang spanduk di tepi jalan.
3. Pukul 23.30
Demo memanas. Polisi mencoba bernegosiasi. Mulai terjadi dorong-mendorong.
Versi mahasiswa: ada lemparan dari polisi ke arah mahasiswa.
Versi polisi: ada yang membakar ban. Polisi berusaha memadamkan, demonstran menghalangi.
4. Pukul 24.00
Polisi meminta aksi dihentikan. Menurut polisi, pengunjuk rasa mulai melemparkan botol dan bom molotov. "Beberapa rumah, warung, dan mobil yang lewat terkena lemparan. Beberapa petugas juga terluka," kata Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Laksamana (Purnawirawan) Widodo A.S. Polisi mundur.
Sabtu, 24 Mei
5. Pukul 04.00
Versi polisi: aparat menghentikan aksi unjuk rasa dan mengejar mereka yang melarikan diri ke dalam kampus. Pengunjuk rasa melawan aparat.
Versi mahasiswa: polisi datang dan terjadi bentrokan. Mahasiswa mundur. Pintu gerbang ditutup petugas satpam. Polisi mulai menembakkan gas air mata.
6. Pukul 06.00
Versi mahasiswa: polisi mendobrak gerbang dan mengejar mahasiswa. Terjadilah bentrokan. Situasi tak terkendali. Ada yang dipukuli.
Versi polisi: aparat menangkap 148 pengunjuk rasa di dalam kampus dengan membawa botol minuman keras, minyak tanah, ganja, dan senjata tajam.
7. Pukul 06.45
Mahasiswa dikumpulkan di lapangan bola dan diangkut ke kantor ke Polres Jakarta Selatan menggunakan tiga tronton dan satu metro mini.
Dari 148 pengunjuk rasa, yang ditangkap:
114 mahasiswa Unas
6 alumnus Unas
11 mahasiswa kampus lain
17 bukan mahasiswa
Sumber: Koran Tempo


