Mantan PPI dan Falintil Bertemu di Bali Bahas Rekonsiliasi
Minggu, 06 Mei 2001 | 13:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pembicaraan intensif mengenai langkah serta format rekonsiliasi di Tim-Tim dibahas mantan anggota Pasukan Pejuang Integrasi (PPI) dan pasukan pro kemerdekaan Timor Leste, Falintil, Sabtu (5/5) di Denpasar, Bali. Format ini akan menjadi acuan dalam pembicaraan rekonsiliasi antara warga Tim-Tim di Indonesia dan warga yang kini berada di wilayah Timor Loro Sae.
Pertemuan ini diprakarsai oleh wakil pemerintah Vatikan untuk Asia. Hadir dalam acara ini 15 mantan anggota Falintil/CNRT dan 15 mantan PPI. Falintil dipimpin Domingos Raul alias Falur Ratelaek dan David Diaz Ximenes (CNRT), sedang PPI dipimpin Cancio Lopez de Carvalho dan Joanico Belo. Mantan panglima PPI, Joao da Silva Tavares, Eurico Gutteres dan pihak Untas.
Soal jaminan keamanan menjadi penghambat bagi perumusan format rekonsiliasi. Kalangan PPI meminta ketegasan akan adanya jaminan itu. Sementara pihak Falintil, berprinsip masalah itu hendaknya tidak dibicarakan.
Menurut Domingos Raul, anggota Forca Devesa de Timor Leste (FDTL), tentara pertahanan Timor Leste, secara prinsip keamanan di Tim-Tim bisa dijamin. “Kami bukan hanya ada kemerdekaan saja, tapi lebih dari itu. Kami sekarang mengajak mantan PPI untuk kembali membangun sebuah bangsa yang baru,” jelasnya.
Sementara itu seorang wakil PPI, Mateus Maia, menjelaskan bahwa awal pembicaraan masih berjalan alot. Ini terjadi karena silang pendapat di antara mereka. Masing-masing pihak masih berpegang pada prinsip rekonsiliasi yang sudah dirumuskan, sehingga sulit ditemukan adanya titik temu. PPI menginginkan rekonsiliasi tanpa syarat, sementara Falintil/CNRT menginginkan adanya rekonsiliasi dalam frame kemerdekaan Timor Loro Sae.
Dalam pembicaraan awal, belum ada kesepakatan soal jaminan keamanan bagi mantan pasukan PPI kembali ke Timor Lorosae. Sebab, pihak Falintil/CNRT tidak dapat memberi jaminan.
“Tertusuknya isteri Xanana Gusmao, menjadi bahan pertanyaan dari PPI kepada Falintil. Namun jawaban Falintil belum memuaskan sehingga masih jadi satu pertanyaan soal jaminan keamanan,” rinci Mateus. Pertemuan rekonsiliasi tersebut berlangsung sangat tertutup dan tidak boleh diliput wartawan. Peserta juga menolak detail mengenai hasil pembicaraan itu. (Rofiqi Hasan)





