Krisis Listrik Melanda Luar Jawa-Bali

Rabu, 07 November 2001 | 09:48 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kawasan diluar Jawa-Bali mengalami krisis listrik. Bahkan, menurut catatan PLN, terdapat 31 titik kritis yang sewaktu-waktu terancam pemadaman karena suplai listrik dari perusahaan negara itu tidak bisa mencukupi kebutuhan masyarakat.

“PLN berupaya mengatasi dengan memutasikan pembangkit di daerah lain atau dengan menyewa pembangkit yang bisa dioperasionalkan dari pulau ke pulau lain,” ujar Aziz Sabarto, Wakil Direktur Utama PT PLN Bidang Tarif dan Niaga, kepada wartawan usai acara di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), kawasan Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (6/11).

Krisis listrik itu, jelas Aziz, terjadi di Sumatera Selatan, Sumatera Barat, sebagian besar Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, sebagian Sulawesi Selatan, Lombok dan Nusa Tenggara Timur. "Boleh dibilang hampir sebagian besar provinsi di luar Jawa dan Bali mengalami krisis. Kebutuhan listrik meningkat, sedang PLN belum bisa menyediakan pembangkit baru," ungkapnya.

PLN coba mengatasi lewat dua cara. Pertama, pembangkit di daerah lain yang mengalami surplus akan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah-daerah krisis. Kedua, bila mendesak, PLN menyewa pembangkit yang bisa digerakkan dari satu pulau ke pulau lain.

Mengenai kawasan Jawa-Bali sendiri, penghematan mutlak dilakukan sejak 2002. Salah satu pembangkit rusak, sangat mungkin terjadi pemadaman. PLN juga akan membatasi penyambungan listrik baru. Untuk tahun 2002, PLN hanya bisa melayani sekitar 1juta sambungan baru (sekitar 800.000 untuk rumah tangga, sisanya bagi industri). "Untuk industri baru yang masuk PLN, hanya dilayani siang ketika beban rendah. Sedang untuk jam 18.00-22.00, kami minta berhenti,” jelas Aziz.

Dua tahun terakhir, daftar tunggu sambungan listrik baru mencapai 2,5 juta. Sebagian besar untuk rumah tangga. Aziz mengakui, permintaan listrik sangat besar. Tapi, kemampuan PLN sangat rendah untuk investasi pembangkit baru. "Jangankan investasi, untuk menutup biaya operasional saja sudah sulit,” ujarnya.

PLN berharap ada perusahaan swasta yang menyediakan daya listrik sembari PLN secara bertahap mempersiapkan kamampuan finansial. "Kalau tidak ada swasta yang berminat, berat bagi PLN untuk menanggung beban sendiri. Tahun 2003 bisa terjadi pemadaman," kata Aziz.

Tahun ini PLN masih merugi sekitar Rp 4,9 triliun, diantaranya karena biaya komponen dalam bentuk dolar, seperti perlatan listrik, pembangkit dan
transmisi. Ia mengklaim PLN telah melakukan efisiensi internal. Salah satunya, mengurangi kehilangan daya listrik, yang saat ini hanya sekitar9-10 persen per tahun. Angka ini jauh lebih kecil dibanding awal Orde Baru yang mencapai 24 persen. “Program efisiensi ini menghasilkan pemasukan Rp 804 miliar,” ujarnya. (Heru C. Nugroho - Tempo News Room)






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: