Roy Suryo: Kepindahan Doktor ke Negeri Jiran Bukan Hanya Karena Uang
Kamis, 26 Juni 2003 | 10:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pakar telematika R.M. Roy Suryo menyatakan ‘kaburnya’ beberapa doktor Indonesia ke Malaysia dan negara lain harus dipandang secara lebih luas, bukan hanya soal uang. “Artinya, yang harus dilihat dan justru diakui terlebih dahulu adalah bahwa Malaysia secara umum memang menawarkan banyak kelebihan dibanding kita. It’s not all about the money,” ujar Roy ketika dihubungi tadi malam (25/6).
Menurut Roy, kondisi di Indonesia saat ini tidak bisa dibandingkan dengan Malaysia. Masalah renumerasi saja, di sana mereka bisa mendapatlan sekitar Rp 25-50 juta per bulan. Sementara di sini, apalagi kalau yang baru, kemungkinan hanya memperoleh sekitar Rp 2-3 juta per bulan. “Sekarang kondisi yang seperti itu apa pantas dibandingkan?”
Dosen Universitas Gadjah Mada ini tidak setuju penilaian bahwa doktor-doktor yang hengkang bekerja ke negeri jiran dikatakan tidak nasionalis. Kenyataan bahwa banyak dari mereka yang memilih Malaysia, Singapura, dan Brunei, menurut dia, juga terkait dengan letak geografis negara tersebut. “Karena letaknya dekat Indonesia, kalau sewaktu-waktu mereka ingin pulang, jadi lebih mudah.” Artinya, kata Roy, pikiran dan hati mereka masih terkait dengan Indonesia, apalagi orangtua dan saudara mereka di Indonesia semua.
Kesamaan bahasa dan budaya dengan Malaysia, menurut Roy, juga turut mempengaruhi pilihan mereka. “Kalau ditawari bekerja di Eropa misalnya, mereka kemungkinan besar akan berpikir dua kali karena memang kondisinya yang jauh berbeda dari Indonesia.”
Selain itu, daya tarik dunia ilmiah di Malaysia juga tidak bisa diremehkan karena negeri jiran itu sangat serius dalam pengembangan sektor pendidikan. Dari sisi penghasilan yang diperoleh oleh guru dan dosen di sana, kata Roy, sudah bisa dilihat sejauh mana keseriusan untuk itu. “Biotech valley di sana, beserta keseluruhan institusi penelitian di sana menyediakan tantangan yang dibutuhkan.” Beberapa perguruan tinggi baru di Malaysia memiliki spesialisasi keilmuan yang dalam, kata dia, misalnya Multimedia Univeristy dan Biotech University di Cyberjaya, Selangor, yang diangankan menjadi semacam sillicon valley di Amerika Serikat.
Roy yang pernah menjadi konsultan program pengembangan Malaysia Multimedia Super Corrridor, mengaku dirinya pun sempat tergoda untuk bekerja di sana ketika ditawari oleh beberapa institusi. Setiap bertemu dengan koleganya dari Malaysia, Roy mengaku selalu ditawari untuk pindah bekerja ke negeri itu. “Saya masih cinta Indonesia,” ujarnya sembari tertawa.
(Amal Ihsan—Tempo News Room)





