Persebaya Cukur PSIM
Minggu, 03 Agustus 2003 | 14:46 WIB
TEMPO Interaktif, SURABAYA: Persebaya Surabaya secara meyakinkan berhasil menundukkan PSIM Jogjakarta dengan skor 4 -1 dalam babak delapan besar Divsi I di Stadion 10 November Surabaya. Gol tim berjuluk "Bajul Ijo" itu dicetak lewat sundulan Antonic Dejan pada menit ke-9, Rahmad Afandi menit ke-55, tandukan Rahel Tuasalamony pada menit ke-75 dan bunuh diri pemain PSIM Haryanto pada menit ke-80. Satu-satunya gol balasan PSIM dicetak lewat tendangan
penalty Joe Nage menit 84.
Sejak menit 55 PSIM hanya mengandalkan 10 pemain,
karena Fabio Olivera dihadiahi kartu merah oleh wasit
Sutamto. Pasalnya, ia dan teman-temannya memprotes
keputusan wasit secara kasar. Protes para pemain PSIM
tersebut merupakan reaksi atas gol yang dicetak oleh
Rahmad Afandi karena dianggap sudah berdiri dalam
posisi off side. Namun wasit malah mencabut kartu
merah untuk Fabio.
Sebenarnya permainan PSIM sudah baik. Sejak menit awal mereka berhasil mengimbangi permainan Persebaya. Bahkan akselerasi duet penyerang asing PSIM, Joe Nagbe dan Roberto Kwateh berhasil merepotkan penjaga gawang Persebaya, Hendra Prasetya. Praktis di lima belas menit pertama di babak kedua, PSIM berhasil mengurung Persebaya.
Namun permainan PSIM rusak karena kepemimpinan
wasit yang kurang tegas. Beberapa kali permainan keras
menjurus kasar yang dilakukan oleh Chairil Anwar dan
Hamka Hamzah tak mendapatkan reaksiwasit. Permainan PSIM menjadi kacau setelah FabioOleivera yang berposisi sebagai gelandang bertahan mendapat kartu merah.
Ketidaktegasan wasit membuat kecewa Pelatih PSIM,
Erest Pehelerang. Menurutnya, anak-anak
asuhnya telah bermain sebaik mungkin. "Namun karena
tak ada perlindungan dari wasit akhirnya mental
anak-anak rusak. Protes Fabio yang akhirnya kena kartu
merah, saya kira puncak dari kekesalan dia terhadap
wasit," papar Erest.
Sebaliknya, kubu Persebaya gembira atas keberhasilan Mursyid Effendi dkk. Pelatih Persebaya, Jacsen Tiago mengatakan bahwa kunci kemenangan timnya karena mereka bermain lepas dan tanpa beban. "Kuncinya anak-anak main lepas dan tanpa beban," kata pelatih asal Brasil yang juga mantan pemain Persebaya ini.
kukuh s. wibowo-Tempo News Room





