Krisis Listrik Jawa-Madura-Bali Teratasi 2006
Senin, 29 Desember 2003 | 16:35 WIB
TEMPO Interaktif, Cilacap: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro memastikan ancaman krisis yang saat ini mengancam Jawa, Madura dan Bali akan aman mulai 2006. Hal ini diungkapkan Purnomo di sela-sela pemancangan tiang dimulainya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara di Desa Karangkandri, Kecamatan Kesugihan, Cilacap, Senin (29/12).
PLTU ini nantinya akan menjadi salah satu pemasok tenaga bagi kebutuhan listrik di jalur tiga pulau itu. " Pasokan tenaga listrik juga akan datang dari pembangkit listrik swasta yakni Tanjung Jati B sebesar 1.300 mega watt,"
kata Purnomo kepada wartawan.
Untuk jangka pendek, PLTU Cilacap yang berkapasitas 2x300 mega watt akan mampu menyuplai tenaga bagi listrik Jawa-Madura-Bali. "Nanti, setelah pembangunan selesai, PLTU ini akan digabungkan dengan beberapa pembangkit lain dan disalurkan untuk mencukupi kebutuhan listrik di jalur selatan Jawa," jelasnya.
Jalur penyaluran tenaga itu masih dalam proses pembangunan. "Jalur transmisi harus berkekuatan 500 KV dan saat ini dalam proses pembangunan," katanya. Di Indonesia, yang ada baru jalur transmisi utara yang mengalirkan listrik dari pembangkit listrik Paiton, Jawa Timur, sampai Suralaya di Jawa Barat. Jalur dibuat demikian karena
pusat beban lebih tinggi di Jawa Barat.
Namun jalur utara tidak bisa menyuplai kebutuhan listrik jalur selatan Jawa. Karenanya, khusus untuk
jalur ini dibangun jalur transmisi dari Paiton melalui Klaten, Yogyakarta, Tasikmalaya, Cibinong, Jakarta dan
Suralaya. "Diperkirakan selesai 2005. Jika sudah ada fasilitas transmisi di jalur selatan, kita akan gabungkan tenaga listrik pada jalur ini agar bisa didistribusikan sesuai kebutuhan," jelas Purnomo.
Mengenai PLTU Cilacap, Presiden Direktur PT PLN Persero Edi Widianto menjelaskan, pembangkit ini akan
mengatasi kebutuhan listrik di jalur Jawa barat dan Tengah bagian selatan. "Selama ini Jawa Barat dan Jawa Tengah Selatan selalu mengalami krisis. PLTU inilah yang akan menginjeksi kekurangan itu," katanya.
Pembangunan pembangkit listrik tenaga uap dengan total investasi Rp 4 trilyun ini bakal digarap kerja sama
antara PT Sumber Segara Primadaya (S2P), anak perusahaan PLN, dengan Chengda Engineering Coorporation of China, perusahaan konsorsium asal China.
Diperkirakan, pembangkit yang berlokasi hanya beberapa puluh meter dari pantai selatan itu akan membutuhkan
sekitar 1,8-2 juta ton batu bara berkalori rendah yakni dibawah 500, per tahun. Mengenai ketersediaan batu bara, Purnomo Yusgiantoro memastikan tidaka akan kekurangan. "Karena cadangan batu bara Indonesia cukup untuk 200 tahun lagi," katanya.
Ari Aji H.S. - Tempo News Room





