Presiden Buka Konferensi Internasional Cendekiawan Islam
Senin, 23 Februari 2004 | 12:21 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Megawati Soekarnoputri membuka Konferensi Internasional Cendekiawan Islam di Jakarta Convention Center, Senin (23/2). Konferensi itu diikuti oleh sekitar 300 cendekiawan dari 24 negara, termasuk negara-negara nonmuslim, seperti Australia, Perancis, Jepang, Filipina, Rusia, dan Belanda.
Presiden didampingi sejumlah menteri kabinet gotong royong, antara lain Menko Kesra Jusuf Kalla, Menlu Hassan Wirajuda, Mendagri Hari Sabarno, dan Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar. Turut mendampingi suami presiden, Taufik Kiemas, Gubernur DKI Sutiyoso, dan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi.
Dalam sambutannya, Presiden berpendapat bahwa umat Islam perlu lebih banyak menampilkan sisi damai. "Jangan sampai berkepanjangan Islam mengajarkan perdamaian dan toleransi tampil dalam sisi lain, yang penuh protes dan kemarahan terhadap masalah yang tidak murni bersifat agama," ujarnya.
Presiden juga mengkritik ketidakadilan yang luar biasa dalam sikap dan tindakan-tindakan negara-negara besar terhadap negara-negara yang masyarakatnya menganut agama Islam. Ia menyebutkan, tindakan kekerasan sepihak negara-negara tertentu terhadap Irak, dan sekarang kesulitan sendiri membuktikan ada tidaknya senjata pemusnah massal yang menjadi pembenar untuk melakukan serangan militer.
Disinggung pula mengenai UU larangan berjilbab di Perancis. Megawati menyebut hal itu sebagai ketidakadilan dalam format yang lebih kecil. Sadar atau tidak sadar, lanjutnya, tindakan diskriminatif itu merupakan batu ujian bagi kesungguhan negara-negara besar tersebut dalam mempraktekkan hak asasi manusia yang mereka perjuangkan ke seluruh dunia sejak abad 20 lalu.
Dalam kesempatan itu, Presiden berharap umat Islam dan cendekiawan dapat ikut merumuskan formula yang tepat untuk mewujudkan kedamaian dan perdamaian dalam kehidupan umat manusia. Mereka juga diminta membuktikan bahwa dunia mendatang tidak akan diwarnai benturan antara peradaban-peradaban besar, yang berakar pada perbedaan anutan agama.
Retno Sulistyowati - Tempo News Room





