Wabah Demam Berdarah Akibat Lingkungan Buruk

Selasa, 24 Februari 2004 | 21:24 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Farid Anfasa Moeloek, Selasa (24/2), menyayangkan kurangnya perhatian semua pihak terhadap masalah kesehatan lingkungan. Padahal, inilah pemicu merebaknya penyakit demam berdarah yang saat ini telah menjadi kejadian luar biasa di 12 provinsi di Indonesia.

Mantan Menteri Kesehatan di era Habibie ini mencontohkan dua negara tetanga yang sudah tidak ada wabah demam berdarah, yaitu Malaysia dan Singapura. Keberhasilan kedua negara itu, menurut Farid, karena perhatian pemerintah terhadap masalah kesehatan lingkungan yang dimasukkan dalam peraturan. Salah satu aturannya berbunyi, "Barang siapa yang rumahnya terdapat jentik nyamuk, maka pemiliknya akan terkena sanksi."

Selain itu, menurutnya, perlu ada koordinasi antara rumah sakit, puskesmas dan dinas kesehatan setempat untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi lingkungan setempat untuk menangani penyakit ini. "Bila rumah sakit menerima kasus DB, amat perlu diinformasikan ke puskesmas dimana kasus itu berasal dan dinas kesehatan sehingga cepat dilakukan pengecekan ssupaya tidak meluas," katanya.

Sementara itu dari data Departemen Kesehatan hingga Selasa (24/2) jumlah penderita demam berdarah meningkat menjadi 12.482 dengan jumlah penderita yang meninggal sebanyak 241 orang dari 21 provinsi yang memberi laporan. Kasus terbesar diduduki oleh propinsi DKI Jakarta sebanyak 4252 dengan jumlah penderita meninggal 47 orang. Departemen Kesehatan memperkirakan kasus ini akan semakin meningkat pada bulan Maret hingga April seiring dengan musim hujan yang masih terus berlangsung.

Sita Planasari A. - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: