Surya Paloh: Indonesia Butuh Presiden dari Dunia Usaha
Kamis, 04 Maret 2004 | 10:25 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Bos grup media yang juga calon presiden, Surya Paloh, menyatakan, peluang pengusaha menjadi presiden kini semakin terbuka. "Karena basis recruitment tidak lagi didominasi klan politik, teknokrat dan ilmuan," kata Surya dalam acara diskusi calon presiden versi dunia usaha yang diadakan oleh Forum Jurnalis Lintas Media di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (4/3).
Meski begitu, kata Surya, peluangnya juga bisa menjadi sulit karena seorang presiden sekarang dipilih oleh 145 juta penduduk Indonesia yang memiliki hak pilih dalam sistem pemilihan langsung. "Bandingkan dengan pemilihan presiden masa lalu yang hanya ditentukan oleh 1.000 anggota MPR di Jakarta," katanya.
Pengusaha, katanya, telah memiliki sejumlah kompetensi yang mendukung untuk terpilih menjadi salah satu kandidat presiden. Pertama, pengusaha besar memiliki dasar leadership yang tangguh. "Jadi terbiasa memimpin banyak orang," katanya. Kedua, sebagai pengusaha pasti tidak saja menginginkan kesejahteraan bagi dirinya tapi juga bagi pegawainya. Dengan kata lain, katanya, kesejahteraan adalah darah daging pengusaha.
Kemudian, pengusaha sudah terbiasa dengan kompetisi yang kejam yang membuat mereka melihat kesulitan sebagai peluang. Yang terakhir, jelasnya, pengusaha juga terbiasa dengan ekonomi sebagai praktek daripada teori.
Di Asean, Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra disebut sebagai contoh sukses pemimpin yang mampu membawa sebuah bangsa keluar dari krisis. "Jadi sangat masuk akal bila sekarang ada pertanyaan kapan giliran orang dari dunia usaha menjadi presiden," katanya.
Menurutnya, jabatan presiden di negeri ini sudah pernah hinggap di tangan politisi dan cendekiawan seperti Bung Karno, Soeharto yang militer, Habibie yang teknokrat, Abdurrahman Wahid yang merupakan seorang kyai budayawan dan cendikiawan, serta terakhir Megawati yang ibu rumah tangga dan politisi. "Namun mereka semua hanya meninggalkan kebangkrutan dengan utang luar negeri dan dalam negeri melebihi 1.000 triliun," katanya.
Meski begitu, ia mengatakan, pengusaha yang tertarik menjadi presiden haruslah tokoh yang terkenal dan disukai publik. "Artinya tidak hanya sukses di perusahaan tapi juga menjadi tokoh publik," katanya. Dengan fenomena itu, tidak ada peluang calon indenpenden menjadi presiden, karena mereka membutuhkan kendaraan partai politik.
Anastasya - Tempo News Room





