Sekitar 100 Tentara Serbu Pos Polisi Terminal Rajabasa

Senin, 22 Maret 2004 | 20:25 WIB

TEMPO Interaktif, Bandar Lampung: Lebih dari 100 anggota TNI angkatan darat dari Batalyon 143 Garuda Hitam, Natar, Lampung Selatan, menyerbu pos polisi terminal Rajabasa, Bandar Lampung, Senin(22/3) petang. Mereka juga merusak kantor dinas lalu lintas dan jalan raya (DLLAJ) di Rajabasa, dan menghancurkan sejumlah lapak yang menjual minuman dan makanan.

Armin, salah seorang saksi mata, mengatakan, ketika itu 100-an tentara yang berseragam turun dari truk yang membawa mereka, lalu langsung menghancurkan pos polisi. Para pedagang, agen dan awak bus, bahkan polisi yang sedang berjaga langsung lari menyelamatkan diri. "Saya sempat mendengar suara letusan senapan," kata kernet bus itu.

Seorang petugas kepolisian mengatakan kejadian itu begitu tiba-tiba. "Kami tidak mau ambil risiko. Pasukan yang datang begitu banyak, ya terpaksa kami menyelamatkan diri," katanya.

Selain menghancurkan semua kaca kantor pos polisi dan dinas lalu lintas, mereka juga merusak alat komunikasi seperti mikropon dan amplifair, mesin tik, meja, kursi, dan sebagainya. Sejumlah pedagang juga mengaku
jutaan rupiah, akibat barang-barangnya dihancurkan.

Kepala Poltabes Bandar Lampung, Komisaris Besar Imam Djauhari, mengatakan pihaknya masih menelusuri lebih jauh sebab musabab kejadian tersebut. "Soal proses hukumnya, kami serahkan pada pihak yang berwenang, yaitu detasemen polisi militer (Denpom) II-3 Lampung," kata Imam. Komandan Korem 043 Garuda Hitam, juga ikut melihat lokasi sesaat setelah kejadian.

Penyerbuan itu bermula ketika empat orang anggota TNI hendak kembali ke Batalyonnya, Minggu (21/3) siang. Dua diantara mereka, Prada David dan Prada Alexander ditarik-tarik agen dan awak bus Corona, yang menuju kota
Metro. "Kami tidak terima ditarik-tarik seperti itu, sehingga terjadi keributan," kata Prada David yang ditemui tempo News Room di Markas Komando Resimen 043 Garuda Hitam, Lampung.

Esok harinya, menurut tentara yang berusia 23 tahun itu, secara tidak sengaja mereka kembali bertemu dengan awak bus yang menarik-narik mereka sebelumnya. Kali ini, keributan bukan hanya perang mulut, tapi juga terjadi baku hantam antara David dan Alexander, dengan para agen dan awak bus. "Kami lalu diteriakin maling, dipukul dan diinjak-injak," ujarnya. Telepon seluler keduanya, berikut uang Rp 3 juta, juga ikut diambil massa. Alex sendiri menderita luka di kepala. "Kami sempat melihat ada sejumlah anggota polisi dan dinas lalu lintas. Tapi mereka membiarkan saja kami dikeroyok. Makanya teman-teman spontan menyerbu pos polisi dan dinas lalu lintas," kata Alex.

Menurut Komandan Tim Intelijen Korem 043 Garuda Hitam, Lettu Abdul Karim, mengatakan tetap akan memproses keduanya. Sementara untuk menyidik pasukan yang menyerbu terminal Rajabasa, akan diserahkan ke komandan batalyon 143 Garuda Hitam. "Bila tidak bisa, baru kami serahkan ke komandan Denpom," kata Karim.

Tim intelijen Korem 043 Garuda Hitam juga sudah menangkap Suhaimi, seorang pedagang di terminal Rajabasa yang diduga ikut dalam pengeroyokan kedua bripda itu. Saat di temui Tempo News Room, muka dan kepala Suhaimi penuh dengan luka. Dari hidung lelaki itu terus menerus mengeluarkan darah.

Tim intelijen masih mencari tiga orang lainnya, yang juga diduga dalang keributan, yaitu Nasir, Mukti, dan Edi Togel. "Mereka itu yang teriak kalau anggota kami maling, hingga massa memukuli keduanya," kata Karim. Karim menambahkan, terminal Rajabasa memang sudah terkenal banyak terjadi kekerasan dan tindak kriminal. Polisi yang bertugas cenderung acuh tak acuh. "Bila perlu, terminal Rajabasa itu diambil alih tentara saja," katanya, dengan nada jengkel.

Fadilasari - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: