Kampanye Parpol Minim Pendidikan Politik

Kamis, 01 April 2004 | 00:58 WIB

TEMPO Interaktif, Banjarmasin: Hasil pengamatan sementara terhadap kampanye pemilu 2004 oleh pengamat politik dari Northwestern University Jeffrey Winters menunjukkan bahwa partai politik minim dalam memberikan pendidikan politik pada konstituennya. "Perlu dipertanyakan apakah pemilu menjadi signifikan untuk mengubah kondisi Indonesia sepuluh atau bahkan seratus tahun yang akan datang, bila tidak ada pendidikan politik bagi rakyat?" kata Jeffrey pada Tempo News Room di Banjarmasin, Rabu (31/3).

Dari seluruh kampanye partai politik yang telah didatangi, hampir sebagian besar yang ia lihat pertunjukkan musik dangdut maupun lip service mengenai korupsi. Bahkan dengan keras dia mengecam iklan kampanye moncong putih yang dilakukan oleh partai penghasil suara terbesar dalam pemilu 1999, PDI Perjuangan. "Kampanye itu sangat membodohi rakyat," tandasnya.

Ia juga mengamati bahwa bila dibandingkan dengan pemilu tahun 1999, pemilu kali terasa sangat lesu. "Rakyat saat ini melihat partai-partai hanya memberi janji belaka," katanya. Perbedaan ini misalnya bila pada pemilu yang lalu masih banyak warga yang rela bergadang hingga tengah malam untuk membuat hiasan atau apapun yang dibutuhkan partai. "Saat ini warga memilih untuk tidur daripada bergadang demi partai," tambahnya.

Menurut Jefrey, solusi dalam hal ini adalah melakukan revolusi. Karena setiap tujuan biasanya hanya mencapai di bawah target. "Berarti Indonesia dapat mengharapkan terjadinya reformasi bila menetapkan revolusi sebagai tujuan. Toh dengan tujuan reformasi yang didapat saat ini adalah status quo karena resistensi yang amat kuat," tandasnya.

Sita Planasari A. - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: