PKS Tuntut Transparansi Publikasi Penghitungan Suara

Rabu, 07 April 2004 | 20:50 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menuntut transparansi dari proses publikasi penghitungan suara sementara. Karena proses komputerisasi yang dinilai belum menjamin jumlah suara masuk dan tidak jelas diperoleh dari daerah mana, sudah dipublikasikan. "Banyak kejanggalan terjadi pada publikasi suara KPU itu, misalnya pemunculan peraih suara terbanyak yang sudah dimenangkan Partai Golkar dan PDIP jauh hari sebelum selesai proses penghitungan suara dengan metode manual. Padahal Undang Undang menyatakan, perhitungan dilakukan dengan menggunakan metode manual," kata Presiden PKS, Hidayat Nur Wahid kepada TNR lewat sambungan telepon, Rabu (7/4).

Hidayat juga melihat keanehan pada perolehan suara yang masuk. Karena, menurutnya, dengan kelengkapan teknologi yang dimiliki, seharusnya perolehan suara yang masuk tentunya terlebih dulu dari Jakarta. "Kalau Jakarta, pasti yang menang adalah PKS dan Partai Demokrat,"kata Hidayat. Tapi ternyata, perolehan suara tertinggi saat ini didominasi Golkar dan PDIP. Jika dikatakan itu berdasarkan perolehan suara di daerah, alasan teknologi menjadi mentah.

Keanehan itu, kata Hidayat, sepertinya hendak mengulang peristiwa Pemilu 1999: sebelum proses penghitungan manual selesai serentak, publikasi di awal sudah menyebutkan PDIP muncul sebagai pemenang. Tapi ternyata setelah ditelisik, suara yang masuk pertama kali justru datang dari Flores yang ribuan kilometer jaraknya dari Jakarta. "Ini jadi pertanyaan besar, seperti apa apa validasinya?"kata Hidayat.

Menurut Hidayat, publikasi diawal penghitungan tidak mencerminkan kekuatan politik, tapi sekadar informasi tidak resmi. Karena informasi resmi adalah lewat penghitungan metode manual. Tapi karena sudah terlanjur dipublikasikan, kata Hidayat, diperlukan transparansi, seperti dari mana sumber data yang masuk.

Istiqomatul Hayati - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: