Warga Indonesia di Dili Diisolasi
Minggu, 18 April 2004 | 18:43 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:278 warga Indonesia yang saat ini menetap di lokasi Mesjid An-Nur Dili meminta perhatian dari Kantor Urusan Kepercayaan Republik Indonesia (KUKRI) karena kondisi mereka yang mengalami isolasi total.
Menurut koordinator warga, H. Arham, yang dihubungi melalui telepon hari ini (18/4) di Dili, sejak 8 April lalu warga sudah mengalami kesulitan memperoleh pangan karena isolasi tersebut, sedangkan persediaan pangan semakin menipis. Warga juga kekurangan air dan banyak anak-anak yang mengalami sakit. "Perhatian dari KUKRI sangat kurang," ujarnya.
Selain itu, menurut Arham, warga juga diberi waktu hingga 24 April ini untuk memilih dipindahkan ke lokasi lain di luar Mesjid An-Nur atau dideportasi ke Indonesia. Pilihan tersebut, katanya, disampaikan oleh Kepala Imigrasi Timor Leste Carlos Geronimo.
Arham sendiri mengatakan pihaknya ingin tetap bertahan di Timor Leste, namun kondisi yang ada kurang kondusif bagi mereka. Mereka juga belum mengetahui ke lokasi mana mereka akan dipindahkan. "Posisi kami diam di tempat. Jika kami mendapat tindakan yang tidak wajar harus diterima," ujarnya.
Ke-278 warga tersebut, kata Arham telah tinggal di sekitar Mesjid An-Nur sejak 9 September 1999. Mesjid An-Nur merupakan mesjid terbesar dan satu-satunya yang tertinggal di Dili.
Di lokasi mesjid, kata Arham, mereka membangun sekolah untuk semua warga di sekitarnya. Menurutnya, warga sekitar telah merasakan manfaat keberadaan sekolah tersebut. Namun demikian keberadaan sekolah tersebut tidak searah dengan kebijakan pemerintah. Saat ini, kata Arham, warga yang tinggal di mesjid itu sebagian besar mengalami depresi.
Untuk mendapatkan status sebagai warga Timor Leste, kata Arham, mereka harus bermukim selama lima tahun sejak tanggal 20 Mei 2002.
Erwin Z - Tempo News Room





