Dubes RI: KBRI Tak Ikut Negosiasi Heli Mi-17

Jum'at, 30 April 2004 | 15:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Susanto Pudjomartono, mengatakan Kedutaan Besar RI di Moskow tak pernah diajak dalam proses negosiasi pembelian helikopter Mi-17 yang kontroversial.

Pihaknya, kata Susanto, hanya sekedar mengetahui adanya proses negosiasi tersebut dan memfasilitasi tamu atau pihak yang berkaitan dengan negosiasi tersebut.

"Kami tahu dan memfasilitasi, selanjutnya itu urusan Departemen Pertahanan," ujarnya kepada Tempo News Room dan harian The Jakarta Post, usai menemui Presiden Megawati di kediaman Jalan Teuku Umar, Jakarta, Jumat (30/4).

Dalam pertemuannya dengan Presiden, Susanto mengatakan tak ada pembahasan soal pembelian heli Mi-17 tersebut. Namun disampaikan bahwa sekitar empat pekan yang lalu telah ditandatangani perjanjian pertukaran informasi rahasia yang terkait pembelian pesawat Sukhoi.

Mantan Pemred The Jakarta Post ini mengatakan informasi rahasia yang dimaksud adalah catatan-catatan atau buku panduan hasil pelatihan teknisi Sukhoi di Rusia beberapa waktu yang lalu.

"Kalau dilatih di sana catatan dan bukunya nggak boleh dibawa pulang karena itu classified information. Jadi harus ada perjanjian," katanya.

Soal ancaman denda terhadap Indonesia karena terlambat membayar uang muka dalam proses pembelian helikopter Mi-17, Susanto angkat bahu. "Itu urusan Departemen Pertahanan," ujarnya.

Akan tetapi, dijelaskannya, bahwa berbisnis dengan Rusia sebetulnya sangat sederhana. "Mereka itu prinsipnya hubungan dagang, ada uang, beli," kata Susanto.

Menurutnya, penjualan senjata adalah salah satu penghasil devisa terbesar negeri Beruang Putih itu selain dari sektor migas. Bila sektor migas menghasilkan devisa US$ 6 miliar, maka penjualan senjata mengisi pundi-pundi keuangan dalam negeri mereka sebesar US$ 5 miliar.

Deddy Sinaga - Tempo News Room

TOPIK






Komentar Anda

Kirim