Golkar Tetapkan Pasangan Wiranto-Muzadi
Jum'at, 30 April 2004 | 17:22 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Partai Golkar telah sepakat untuk memasang duet Jenderal Purn. TNI Wiranto dengan KH Hasyim Muzadi, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sebagai calon presiden dan calon wakil presiden.
Terkait hal itu, Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung bersama capres dari Partai Golkar, Wiranto, menemui Hasyim Muzadi di kediamannya, Jalan Jaya Mandala 91, Kuningan, Jumat (30/4) siang.
Dalam pertemuan tertutup yang berlangsung sekitar 40 menit itu, Akbar dan Wiranto menyampaikan maksud kedatangannya kepada Muzadi untuk meminta kesediaannya mendampingi Wiranto. “Kami, atas nama organisasi Partai Golkar, berkaitan soal pemilihan presiden pada Pemilu 2004, di mana sebagaimana telah diketahui, Partai Golkar telah menetapkan calon presiden, yakni Pak Wiranto. Kemudian kami juga telah sepakat, untuk mendampingi Pak Wiranto sebagai calon wapres adalah KH Hasyim Muzadi,” kata Akbar kepada wartawan, usai pertemuan itu.
“Maksud dan tujuan kami di sini, adalah menyampaikan apa yang telah kami sepakati, apa yang telah kami putuskan, bahwa KH Hasyim Muzadi kami harapkan bisa mendampingi Pak Wiranto, sebagai calon presiden dari Partai Golkar,” lanjut Akbar.
Menurut Akbar, Hasyim Muzadi menyampaikan penghargaan dan terima kasih diberi kepercayaan yang begitu besar itu. “Dan beliau pun menyebut bahwa antara NU, dengan TNI, dengan Golkar, selama ini juga telah melakukan kerja sama yang begitu baik, terlebih-lebih pada saat kehidupan bangsa dan negara mengalami situasi yang rawan,” ujarnya.
Namun, lanjut Akbar, di dalam pengambilan keputusan keluarga besar NU, pada saat yang begitu penting yang menentukan perjalanan bangsa ke depan, maka instansi pengambilan keputusan ada pada Syuriah NU. “Oleh karena itu beliau menyatakan menghormati tawaran ini, tetapi pada saat ini beliau tidak pada posisi memberikan jawaban secara institusi. Yang memberikan jawaban secara institusi itu adalah Syuriah,” kata Akbar.
Oleh karena itu, kata Akbar, Hasyim Muzadi mengharapkan Wiranto dan dirinya menemui Ketua Majelis Syuriah NU, Rois Aam KH Sahal Mahfudz. “Oleh karena itu kami akan segera mengatur pertemuan dengan KH Sahal Mahfudz dalam waktu yang singkat ini. Kami menyadari bahwa soal waktu turut menentukan proses pengambilan keputusan,” ujarnya.
Rabu (28/4) lalu, Wiranto telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai salah satu syarat pencalonan. “Dan Insya Allah, calon wakil presidennya segera diperiksa kesehatannya,” katanya.
Sementara itu, Muzadi yang berdiri di sebelah Akbar saat memberikan keterangan kepada wartawan mengatakan, di organisasi NU ada sebuah kebiasaan, pada momen-momen yang sangat penting yang menyangkut keselamatan dan masa depan bangsa dan negara, “Masalahnya selalu diambil oper oleh Syuriah. Ini sepanjang sejarah Indonesia.”
Ia menyebut di era tahun 1946 di zaman Pemerintahan Presiden Soekarno, pada waktu peristiwa PRRI-Permesta, dan peristiwa G-30 S di tahun 1965. “Kemudian sekarang memasuki periode kerawanan juga, bahkan multidimensional, sehingga kerawanan itu hampir tidak berbentuk,” kata Muzadi.
Oleh karenanya, kata Muzadi, tawaran-tawaran untuk ikut memimpin negara, menjadi diambil alih oleh Syuriah. “Oleh karenanya saya menyarankan untuk berkonsultasi kepada Syuriah. Saya ini jadi wayang saja,” ujarnya.
Mengenai penolakan Gus Dur untuk berkoalisi dengan Partai Golkar, Muzadi dengan nada tinggi mengatakan, “Ya tanya Gus Dur, wong Gus Dur yang nolak kok saya yang ditanya? Yang bener aja."
Muzadi menjelaskan, secara struktural, atasan ketua umum adalah rois aam. “Jadi kalau PKB yang diminta, dia harus lapor ke Gus Dur. Tapi kalau NU yang diminta, harus lapor ke Rois Aam (NU), jadi struktural itu masing-masing (PKB dan NU) itu ada, itu keputusan tertinggi,” kata Muzadi.
Dengan adanya saran dari Hasyim Muzadi untuk meminta izin dari Ketua Majelis Syuriah NU, KH Sahal Mahfudz, Wiranto mengaku akan menunggu hasil pertemuan itu.
“Oleh karena itu saya akan menunggu nanti, setelah kita bertemu Rois Aam PBNU. Kita akan melaporkan apa yang kita lakukan pada hari ini untuk meminta beliau (Hasyim Muzadi) untuk mendampingi capres terpilih dari Partai Golkar,” kata Wiranto.
Dimas - Tempo News Room





