Kapolri Copot Kapolda Sulawesi Selatan

Minggu, 02 Mei 2004 | 13:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Buntut dari peristiwa penganiayaan puluhan mahasiswa Universitas Muslim Indonesia oleh aparat kepolisian Makassar, Kapolda Sulsel Irjenpol Yusuf Manggabarani dicopot. Soal ini diumumkan oleh Kapolri Jendral POlisi Da'i Bachtiar dalam konferensi pers di Mabes Polri Jakarta, Minggu (2/5) siang.

Menurut Da'i, Yusuf dicopot berdasarkan keputusan Dewan Kebijakan Tinggi (Wanjakti) Polri tadi pagi, setelah adanya arahan dari Presiden Megawati Sukarnoputri tadi malam, yang meminta agar Kapolda diberi sanksi atas terjadinya peristiwa itu.

Presiden, menurut Da'i mendukung langkah Polri untuk melakukan pemeriksaan dan memberikan sanksi tegas terhadap anggota-anggotanya yang terlibat dalam peristiwa itu, dan akan mengirimkan tim dari Jakarta yang dipimpin oleh Wakil Kepala Pusat Profesi Komisaris Besar Mustofa yang bertugas menyelidiki peristiwa itu.

Pencopotan Kapolda itu dilakuan menyusul pencopotan terhadap Kapolwiltabes Komisaris Besar Polisi Drs H Yose Rizal, Kapolres Makassar Timur Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Supriyanto, dan Kapolsekta Panakukkang Ajun Komisi Polisi Parambungan tadi malam.

Irjen Polisi Saleh Sa'af ditugaskan untuk menggantikan posisi Kapolda Sulsel yang kosong. "Irjenpol Yusuf Manggabarani ditarik ke Mabes Polri, untuk digantikan oleh pejabat Kapolda baru yaitu Irjenpol Drs Saleh Sa'af," kata Da'i. Namun, Da'i belum menentukan posisi baru Yusuf di Mabes Polri karena rotasi itu akan dikaji secara mendalam belakangan.

Seperti Presidan Megawati, Da'i juga menyatakan keprihatinannya dan meminta maaf kepada Mahasiswa yang menjadi korban, juga kepada Pimpinan Universitas. Da'i menilai perilaku aparatnya di lapangan adalah perilaku yang berlebihan dan telah menyimpang dari aturan yang berlaku. "Oleh karena itu hal itu harus dipertanggungjawabkan," katanya.

Selain itu, Da'i mengatakan bahwa langkah pencopotan yang diambil Polri merupaka wujud dari penerapan kebijakan Reward and Punnishment (Penghargaan dan Sanksi) terhadap para anggotanya di lapangan. Polri juga mengatakan bahwa upaya untuk menuju citra polisi lebih sebagai pengayom masyarakat sudah dilakukan dengan latihan-latihan yang mendatangkan ahli-ahli dari luar negeri, walaupun kejadian di lapangan berkata lain. Upaya lainnya adalah mengganti senapan serbu Polri menjadi senapan laras produksi PT Pindad.

Peristiwa berdarah itu sendiri berawal dari aksi solidaritas Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia yang meminta agar 25 mahasiswa yang ditahan oleh polisi karena melakukan aksi menentang militerisme dalam panggung politik di kantor KPU, Sabtu (1/5). Aksi solidaritas mahasiswa UMI kemudian berlanjut pada penyanderaan anggota polisi dari Polwiltabes Makassar bernama Briptu Sudirman yang sedang pulang bertugas dan melintas di depan kampus mereka.

Penyanderaan Sudirman mengakibatkan penyerangan polisi ke dalam Kampus dan berakibat terjadinya penganiayaan polisi kepada Mahasiswa yang ada di dalam kampus. Sampai saat ini, menurut laporan resmi kepolisian, 65 mahasiswa yang juga mengalami luka-luka akibat penganiayaan, masih ditahan. Seorang mahasiswa mengalami luka tembak di paha kanannya.

Indra Darmawan - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: