Enam Tahun Reformasi Diperingati Dengan Unjuk Rasa

Jum'at, 21 Mei 2004 | 16:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta, Malang, Mataram, Kendari: Selain isu anti militeristik, unjuk rasa di berbagai daerah, Jumat (21/5), jelas mengusung peringatan enam tahun berjalannya reformasi. Di Jakarta misalnya, sekitar 500 orang dari Aliansi Mei Bergerak bahkan mendatangi Jalan Cendana untuk peringati jatuhnya Soeharto, pemimpin orde baru. "Kami datang kemari untuk menyatakan penolakan terhadap militerisme dan meminta agar Soeharto diadili," kata Mustar Gena Ventura juru bicara Aliansi Mei Bergerak.

Dalam aksi itu, massa berencana menyerahkan sekitar 1500 nisan kepada keluarga Soeharto, sebagai representasi berbagai kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan selama rezim orde baru memerintah. Sayangnya, rencana itu kemungkinan akan gagal. Maklum, saat ini para demonstran masih berada di Jalan Prof. Moh. Yamin, dihadang aparat keamanan.

Di Malang lain lagi. Peringatan enam tahun reformasi dan lengsernya Soeharto dilakukan dengan aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Malang, Komite Rakyat Anti-Militerisme (Koramil), dan Aliansi Mahasiswa untuk Demokrasi (AMUK) Universitas Muhammadiyah Malang.

"Enam agenda reformasi hampir seluruhnya gagal dilaksanakan oleh para penyelenggara pemerintahan: pencabutan dwifungsi TNI/Polri, penegakan supremasi hukum, pemberantas kolusi, korupsi dan nepotisme, pemberian otonomi daerah, pembangunan budaya demokrasi yang egaliter dan amandemen konstitusi," kata Rully Novianto, Ketua KAMMI Daerah Malang.

Di Kendari, sekitar 400 pengunjuk rasa dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di Kota Kendari sempat menahan menahan tiga unit truk milik TNI/Polri sebagai wujud anti militer. Dalam tuntutannya, para pengunjuk rasa minta pemerintah melanjutkan pengusutan kasus Trisakti dan Semanggi. Selain itu, KPU diminta tidak meloloskan capres Wiranto yang diduga kuat terlibat dalam kedua peristiwa itu.

Di Mataram, aksi unjuk rasa sempat berbuntut aksi kekerasan yang dilakukan Polisi Pamong Praja (Pol PP) Kota Mataram. Akibat kejadian itu, seorang mahasiswa, Sabarudin, 22 tahun, mengalami luka serius dan harus dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Polda NTB.

Abdi Purmono, Dedy Kurniawan, Muhammad Fasabeni, Sujatmiko - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim