Ibu Kandung Nirmala Bonat Bertemu Presiden

Rabu, 26 Mei 2004 | 11:18 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Megawati Soekarno Putri mengundang ibu kandung Nirmala Bonat, Tenaga Kerja Wanita yang dianiaya di Malaysia, di kediaman pribadinya di Jl. Kebagusan, Jakarta Selatan, Rabu (26/5).

Martha Toni, ibu Nirmala, ditemani oleh saudaranya Daniel Bire, Kepala Dinas Tenaga Kerja Nusa Tenggara Timur (NTT) Ign. N. Conterius, dan Kepala Asosiasi Penyedia Jasa Tenaga Kerja NTT, Abraham Lianto. Mereka tiba pukul 08.00 WIB, namun baru bertemu Presiden sekitar pukul 09.15 WIB.

Martha yang berbaju beludru hijau dan berselendang tenun Timur itu lebih banyak diam dalam pertemuan itu. Dia duduk bersebelahan dengan Presiden yang tampil dengan kebaya panjang warna cokelat muda. Di sebelah kirinya, duduk Daniel yang membantu menerjemahkan kata-kata Martha yang tidak bisa berbahasa Indonesia itu.

Di awal pertemuan, Presiden lebih banyak bertanya kepada Martha, yang sering kali dijawab dengan diam. Sorot matanya tampak kosong dan lebih banyak menatap lantai. Barulah setelah diterjemahkan oleh Daniel Bire, dia menjawab singkat, bercampur dengan bahasa daerah dan kadang-kadang harus didorong sendiri oleh Presiden untuk menjawab.

Presiden bertanya ihwal berangkatnya Nirmala ke Malaysia, September 2003 lalu. Martha menjelaskan keberangkatan putrinya itu tanpa sepengetahuannya. Barulah setelah Nirmala tiba di Jakarta, keluarganya di Kupang dikabari lewat surat. Mendengar ini, Megawati kontan agak marah, terdengar dari nada suaranya yang meninggi.

"Siapa yang bawa?" kata Presiden yang dijawab tidak tahu oleh Nirmala. Conterius kemudian menjelaskan bahwa orang tua Nirmala memang tidak tahu perihal keberangkatan itu. Namun akhirnya mereka memberi izin melalui salah seorang saduranya, itu pun setelah Nirmala memaksa. "Lain kali tidak boleh, kalau Nirmala mau dibawa kemana-mana lagi. Ngerti?" kata Presiden tegas, apalagi setelah diberitahu bahwa Nirmala adalah putri satu-satunya keluarga Bonet.

Presiden menjelaskan bahwa dirinya sudah mengutus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jacob Nuwa Wea, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan, Sri Redjeki Sumarjoto, untuk mengurusi masalah itu. Secar tegas dia juga meminta agar masyarakat tidak sembarangan memberi izin anaknya atau keluarganya pergi bekerja ke luar negeri. "Karena pemerintah tidak bisa melakukan suatu hal yang berkaitan dengan hak mereka mencari kerja," kata Presiden.

Pertemuan itu berlangsung sekitar 15 menit, sebelum Presiden meninggalkan rumahnya menuju Balai Sidang, Jakarta. Sebelum acara itu, Abraham Lianto sempat mengungkapkan kemungkinan mereka lebih lama di Malaysia. Pasalnya, di Negeri itu telah berkembang pandangan di media massa bahwa Nirmala sakit jiwa. Dia mengatakan media massa Malaysia mengutip keterangan Nina, seseorang yang mengaku sepupu Nirmala. Dia sendiri memastikan, tidak ada sepupu yang bernama Nirmala.

Deddy Sinaga - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: