Kejaksaan-Polri Bentuk Tim Penyelidik Penembakan JPU

Jum'at, 28 Mei 2004 | 16:24 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Soedono Iswahjudi menyatakan Kejaksaaan Agung bersama pihak kepolisan akan membentuk tim penyelidikan bersama untuk mengungkap motif dibalik tewasnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ferry Silalahi. “Ya. Akan kita koordinasikan dengan pihak kepolisan,” ucapnya kepada wartawan disela-sela upacara jenazah Ferry Silalahi, di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Jumat (28/5).

Sampai saat ini belum diketahui pelaku serta motif pembunuhan. “Termasuk apakah ada kaitannya dengan pekerjaan yang dijalani almarhum atau tidak semua belum bisa diketahui,” ujarnya sambil berkata, “Yang pasti Ferry gugur dalam menjalankan tugas.”

Jenazah Ferry tiba di Gedung Bundar Kejaksaan Jumat menjelang siang setelah diterbangkan dari Sulawesi Tengah menuju bandara Soekarno – Hatta Jakarta. Setelah dilakukan upacara serah terima dan prosesi doa, jenazah dipindahkan ke rumah duka di Jalan Radio Dalam. Rencananya, almarhum akan dimakamkan di Pusara Adhyaksa Cibinong.

Mengenai jaksa lain yang terancam, pihaknya sudah meminta perlindungan agar tugas penegak hukum di mana pun agar dilindungi. Menurut dia, tewasnya Ferry memang berpengaruh terhadap mental para jaksa.

Khusus untuk perlindungan para jaksa di Palu, Kejaksaan Agung intensif menjalin koordinasi dengan Kejaksaaan Tinggi di Sulawesi Tengah. Yang pasti, tugas penyidikan oleh para jaksa akan jalan terus termasuk untuk kasus-kasus berat semacam terorisme, korupsi narkoba dan tindak pidana lainnya.

Sambil berkali-kali melontarkan ungkapan duka cita, Soedono berkali-kali menyatakan tekad pihak kejaksaan akan terus melakukan penegakkan hukum terutama untuk kasus-kasus penting di negeri ini.

Anggota keluarga Ferry Silalahi dalam kesempatan yang sama secara khusus menyampaikan permintaan maaf kepada orang-orang yang pernah diperiksa Ferry selama masih bertugas. “Kami sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas nama keluarga yang pernah diperiksa dan dibela oleh adik kami, barang kali kesalahan,” ujar kaka ipar Ferry, MW Situmorang.

Di mata Situmorang, Ferry merupakan sosok jaksa yang mau bekerja keras dan rela meninggalkan kepentingan diri dan keluarganya demi kepetingan pekerjaannya. “Dia adalah putra bangsa yang sangat baik,” sambungnya sambil berkaca-kaca.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan Panda Nababan yang terlihat hadir menyampaikan bela sungkawa di Kejaksaan Agung menyatakan, Ferry merupakan sosok jaksa yang pintar dan sangat serius. “Lihat saja saat dia menangani kasus Tangerang, bukan tidak ada godaan,” ujar Panda.

Namun bagi Panda, tewasnya Ferry diharapkan tidak menyurutkan langkah kejaksaan untuk berjuang menegakkan hukum dan keadilan. Tewasnya Ferry harusnya menjadi kebanggan dan martir dari seorang jaksa yang berani mengambil resiko. “Ferry ini martir yang tidak takut karena tidak minta pindah dari Palu, biasa saja, ikut kebaktian lalu dibunuh,” kata Panda.

Mengenai pengamanan para jaksa, menurut Panda pimpinan Kejaksaan Agung biasannya mengeluarkan ketentuan sendiri. Bahkan seiingat Panda, para jaksa ini ada juga yang dibekali senjata meski karena keterbatasan anggaran kemudian menjadi sedikit yang memilikinya.

Ecep S Yasa – Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim