Yudhoyono Siapkan Tiga Agenda Jangka Pendek

Selasa, 01 Juni 2004 | 21:30 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku telah mempunyai tiga agenda jangka pendek untuk mengatasi dan mengantisipasi permasalahan pembangunan Indonesia pasca krisis. Menurut Yudhoyono, pembangunan kembali Inonesia pasca krisis itu harus diarahkan pada pengamanan dalam negeri untuk mewujudkan Indonesia yang lebih aman, damai, adil, dan sejahtera.

"Indonesia yang lebih aman dan damai mengharuskan kita untuk meningkatkan keamanan dalam negeri, menghentikan separatisme bersenjata, serta mengakhiri konflik komunal," kata Yudhoyono dalam pidato politiknya di hari pertama kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden di Graha Internusa Jakarta, Selasa (1/6).

Selain itu, kata Yudhoyono, Indonesia yang lebih aman dan damai dapat diwujudkan dengan memantapkan keamanan publik, memerangi kejahatan, termasuk kejahatan transnasional dan terorisme.

Untuk itu, Yudhoyono menyatakan, dirinya telah menyiapkan tiga agenda jangka pendek. Menurut Yudhoyono, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengakhiri gerakan separatis bersenjata di aceh dan Papua. Namun, lanjut dia, proses itu harus tetap memperhatikan hak, martabat, kehormatan, dan rasa keadilan di kedua provinsi itu. "Kita dapat lakukan dengan meningkatkan pelaksanaan otonomi khusus," ucapnya.

Hal kedua yang harus dilakukan, menurut Yudhoyono, adalah mengakhiri konflik komunal yang terjadi di Malaku dan Poso. Untuk itu, pemerintahan ke depan, kata dia, harus membangun kembali infrastruktur untuk mengambalikan masyarakat dalam kehidupan yang normal. "Tapi yang paling utama adalah bersama-sama masyarakat di wilayah itu menemukan dan mengatasi akar utama konflik," katanya.

Sedangkan hal ketiga yang harus dilakukan, lanjut Yudhoyono, Indonesia harus mampu memerangi kejahatan terorisme dan kejahatan transnasional, seperti narkoba dan perdangan anak. "Meski tidak mudah, saya berjanji akan memerangi terorisme sampai ke akar-akarnya," ucap dia. Ia menilai, tindakan terorisme itu telah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan, dan meninggalkan pedih yang dalam bagi keluarga korban. Untuk itu, ia berharap, TNI dan Polri dapat terus bekerja secara profesional untuk mengemban tugas-tugas pertahanan dan keamanan.

Yandhrie Arvian - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim