SBY Dialog Terbatas Dengan Mahasiswa UI

Kamis, 10 Juni 2004 | 11:35 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Calon Presiden Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melaksanakan dialog terbatas dengan Civitas Akademika Universitas Indonesia selama satu setengah jam. Acara yang dipandu oleh Dosen Psikologi UI, Prof. Sarlito Wirawan, itu dilangsungkan di Posko Simpatisan SBY-Kalla, di Jalan Lembang Nomor 9 Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (10/6) pagi.

Dalam dialog, Yudhoyono memaparkan visi misi dan komitmennya sebagai calon presiden Republik Indonesia. "Pemimpin Indonesia yang akan datang haruslah sosok seorang pemimpin yang mau bekerja keras," ucapnya.

Pertanyaan yang diajukan oleh peserta dialog lebih banyak menyangkut soal pendidikan, kesehatan, teknologi tepat guna, persoalan di daerah konflik serta permasalahan Tenaga Kerja Wanita di luar negeri.

Mengenai nasib TKI, kedepannya negara, Pemerintah, serta agen-agen yang memberangkatkan TKI ke luar negeri itu harus lebih bertanggung jawab.

Yang juga tak kalah penting, ucap Yudhoyono, semua pihak yang terkait termasuk Pemerintah harus mampu melindungi para tenaga kerja Indonesia jika mereka mendapatkan perlakukan yang baik atau merasakan ketidakadilan. "Hak dasar mereka (TKI) harus dipenuhi," ucapnya.

Sementara itu, Sarlito Wirawan membantah jika acara yang dipandunya itu hanya dikhususkan untuk melakukan dialog dengan SBY semata. "Kita juga melaksanakan acara ini dengan para kandidat lainnya, tidak hanya dengan pak Yudhoyono," katanya. Menurutnya, semua calon Presiden sudah dijadwalkan dan telah berkomitmen untuk hadir dalam dialog terbatas bersama Civitas Akademika UI itu.

Salito juga membantah jika dialog terbatas tersebut untuk memberikan kesan seolah-olah Yudhoyono kelihatan dekat dengan kalangan mahasiswa. Pernyataan Sarlito itu terkait dengan batalnya Yudhoyono untuk hadir dalam debat calon presiden yang dilaksanakan di Universitas Indonesia kemarin.

Sarlito menuturkan, dalam acara dialog tersebut tidak ada sama sekali pertanyaan sifatnya pengujian, debat, memberikan penilaian atau membedah sosok sang kandidat calon presiden. "Acara ini bukan memojokan atau untuk mengadili seseorang," katanya.


Yandhrie Arvian – Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: