Siswa SMU Tidak Lulus UAN 10,22 Persen
Kamis, 10 Juni 2004 | 14:52 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Tingkat kelulusan siswa Sekolah Menengah Umum/Madrasah Aliyah (SMU/MA) secara nasional adalah 89,88 persen atau tingkat ketidaklulusannya 10,22 persen. Tingkat kelulusan tersebut merupakan rata-rata hasil UAN SMU/MA dari tiga mata pelajaran yang bahannya bersifat nasional, yaitu Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia.
Sementara tingkat kelulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) secara nasional lebih rendah, yaitu 88,55 persen. Namun rata-rata tingkat kululusan SMU/MA tersebut mempunyai standar deviasi yang tinggi, rentangnya berkisar antara 69,31 persen sampai 96,42 persen atau terdapat daerah yang 30,69 persen siswanya tidak lulus. Hasil UAN itu akan diumumkan secara serentak di semua provinsi tanggal 14 Juni.
Menurut Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Depdiknas, Dodi Nandika, secara umum tingkat kelulusan untuk siswa SMA/MA negeri lebih baik daripada siswa SMU/MA swasta. “Secara umum perbedaannya sampai dua kali lipat,” ujarnya.
Sementara menurut Kepala Pusat Penelitian Pendidikan, Bahrul Hayat, rata-rata hasil UAN siswa SMA lebih baik dari MA. “Namun ada data yang menarik bahwa di daerah seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Lampung, hasil UAN siswa MA lebih baik,” ujarnya.
Bagi siswa yang tidak lulus UAN akan mengikuti UAN ulangan yang akan dilakukan secara serentak pada tanggal 6-8 Juli untuk tiga mata pelajaran yang bahannya bersifat nasional. Untuk mata pelajaran yang bahannya disiapkan oleh sekolah, UAN ulangan dijadwalkan sebelum 6 Juli.
Mengenai standar kelulusan siswa yang mengikuti UAN ulangan, Dodi menegaskan bahwa standarnya tetap 4,01 dan bobot soalnya sama dengan UAN. Mengenai kemungkinan siswa tetap tidak lulus setelah mengikuti UAN ulangan, Dodi mengatakan, “Tidak ada her ketiga, siswa tersebut harus mengulang 1 tahun lagi."
Dodi mengakui masih terdapat perbedaan besar antara daerah yang pendidikannya sudah maju dengan daerah Indonesia Timur dan daerah konflik. “Meskipun bahan sudah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing daerah (sudah diadakan valitas), namun masih terlihat jelas perbedaannya,” ungkap Dodi.
Meskipun beberapa program pendidikan sudah dikonsentrasikan ke daerah timur, kata Bahrul, namun tidak bisa dilihat hasilnya secara signifikan dalam waktu dekat.
Selanjutnya pusat penelitian pendidikan akan melakukan analisis statistik dan daya serap hasil UAN untuk tiga mata pelajaran yang bersifat nasional dan mendistribusikan hasil tersebut sebagai umpan balik ke sekolah, dinas pendidikan kabupaten/kota dan provinsi pada bulan Agustus mendatang. Analisis juga akan dilakukan untuk melihat objektifitas nilai yang bahannya disiapkan oleh sekolah dan akan disampaikan ke sekolah sebagai informasi dan peringatan bagi sekolah.
Bahrul mengatakan untuk UAN yang bahannya bersifat nasional tidak terjadi kebocoran. “Kebocoran soal yang terjadi adalah UAN dengan bahan lokal,” ujarnya.
Rina Rachmawati - Tempo News Room





