Separuh Pertarungan Capres Terjadi di Media Massa

Sabtu, 19 Juni 2004 | 17:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kampanye presiden saat ini diakui lebih banyak memanfaatkan peran media massa, sehingga dapat dikatakan calon presiden yang memenangkan kampanye adalah yang dapat menguasai media. Hal tersebut dikatakan oleh Ibnu Hamad, pengajar di FISIP UI pada acara Mimbar Akhir Pekan bertema Wajah Capres dan Cawapres di Media, Sabtu (19/9) di Hotel Menara Peninsula, Jakarta.

Namun yang harus diperhatikan, menurut Ibnu, ada dua jenis media yang digunakan dalam kampanye. “Ada yang disebut media lini atas (above the line) dan media lini bawah (below the line),” ujar Ibnu. Yang termasuk media lini atas adalah TV, radio, dan media cetak. Sedangkan media lini bawah antara lain stiker, leaflet, baliho, termasuk warung. “Separuh dari pertarungan capres dan cawapres terjadi di media lini atas,” kata Ibnu.

Kampanye capres dan cawapres lewat media ini sangat bervarasi, mulai yang dilakukan oleh diri sendiri melalui iklan dan talk show sampai yang dilakukan oleh orang lain, seperti wartawan, komentator, dan polling. “Wartawan juga berperan dalam kegiatan kampanye dengan mencitrakan capres kepada masyarakat,” jelas Ibnu.

Hal tersebut dibenarkan oleh pembicara lain, Ahmad Tanthowi, jurnalis dari Koran Tempo. “Tugas pers merekam wajah capres yang sesungguhnya,” kata Tanthowi.

Mengenai jenis iklan kampanye capres dan cawapres, Ibnu mengkatagorikan menjadi lima (5B iklan), yaitu blank campaign (kampanye kosong tanpa materi penting), blame campaign (kampanye yang menyalahkan masa lalu), block campaign (mengklaim sesuatu sebagai kesuksesan pribadi), back campaign (kampanye dengan menampilkan dukungan dari tokoh terkenal), dan black campaign.

Namun bagaimanapun juga, Ibnu mengingatkan penampilan di media hanya salah satu cara pemenangan. Karena untuk kondisi politik di Indonesia, partai besar umumnya lebih punya jaringan atau mesin politik. “Di Indonesia, fungsi jaringan sosial masih kuat, dan itu yang dimanfaatkan oleh beberapa capres,” katanya.

Sebaliknya, capres dengan dukungan jaringan sosial yang lemah seperti SBY dan Amien Rais lah yang memanfaatkan media untuk mengkampanyekan dirinya.

Rina Rachmawati – Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim