Beda Pendapat Elite Golkar Makin Menajam
Selasa, 03 Agustus 2004 | 18:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Perbedaan pendapat soal koalisi di jajaran pengurus DPP Partai Golkar terlihat semakin tajam. Beberapa pengurus ada yang menyatakan sebaiknya berkoalisi dengan pasangan Megawati–Hasyim Muzadi, namun beberapa pengurus lain secara terbuka lebih memilih berkoalisi dengan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono–Jusuf Kalla.
Ketua DPP Partai Golkar Fahmi Idris berpendapat, dilihat dari aspek kepentingan bangsa dan partai ke depan, yang paling ideal dan cocok didukung adalah pasangan SBY–Kalla. Dia menilai, Megawati telah gagal menjalankan amanat reformasi di pemerintahan setelah diberi kesempatan selama kurang lebih tiga tahun terakhir ini.
“Tolak ukurnya jelas, banyak persoalan yang belum terselesaikan sehingga kita membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan dan kesanggupan membangun bangsa ini dan yang paling tepat adalah pasangan SBY–Kalla,” jelas Fahmi kepada wartawan di Gedung DPR/MPR, Senayan Jakarta, Selasa (3/8).
Meski demikian pada akhirnya Fahmi ragu akan konsistensi sikap pengurus DPP Partai Golkar secara keseluruhan. Menurut dia, jika Akbar Tandjung sebagai ketua umum sudah menentukan pilihan, maka semua akan ikut serta dengan sikap Akbar.
Namun keyakinan Fahmi itu diperkuat seorang pengurus DPP Partai Golkar lainnya yang menyatakan mayoritas DPD I dan II Partai Golkar di daerah lebih memilih pasangan SBY–Kalla. Bahkan dia menyatakan antara elite pengurus DPD Golkar dengan Partai Demokrat di sejumlah daerah sedang dan akan melakukan pertemuan intensif membangun koalisi.
Dia juga mengklaim sejumlah DPD Golkar memberikan dukungan terhadap pasangan SBY–Kalla. Di Sulawesi kecuali Sulawesi Utara semua mendukung SBY Kalla, di Jawa kecuali Jawa Tengah juga sama, di Kalimantan kecuali Kalimantan Barat juga sama. “Kalau di Sumatera imbang antara mendungkung SBY dan Megawati,” ucapnya.
Lain halnya pengurus DPP lainnya, Theo L. Sambuaga. Menurut dia, meski belum ada keputusan resmi, namun akan lebih strategis dan efektif apabila Partai Golkar berkoalisi dengan pasangan Megawati–Hasyim Muzadi. Menurut dia, bersatunya Golkar–PDI Perjuangan ditambah beberapa partai lainnya bakal melahirkan pemerintahan yang efektif dan dikung mayoritas parlemen. “Kalau dengan SBY–Kalla, kita akan kekurangan dukungan,” ujarnya.
Pengurus DPP lainnya, Slamet Effendy Yusuf, membatah jika perbedaan pendapat itu sebagai awal perpecahan partainya. Menurut dia, di alam demorasi seperti sekarang ini pendapat tidak harus seragam dan sama. Yang penting, kata dia, saat DPP memutuskan, semua kader dan simpatisan Partai Golkar ikut medukung dan mengamankan keputusan tersebut.
Ecep S. Yasa – Tempo News Room





