Perpecahan Golkar Merambat ke Daerah
Senin, 06 September 2004 | 09:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Penentangan terhadap keputusan Partai Golkar untuk mendukung duet Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi meluas hingga ke tingkat bawah. Pekan ini, pengurus Golkar dari 11 provinsi akan mendeklarasikan Forum Persatuan dan Pembaharuan Golkar tingkat daerah.
"Untuk yang pertama, deklarasi (Forum) akan dilakukan di Semarang, Jawa Tengah," kata politikus Golkar Burhanuddin Napitupulu di Jakarta kemarin petang. Setelah Semarang, kata dia, forum serupa akan dibentuk di Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan daerah-daerah lainnya.
Di tingkat nasional, Forum Persatuan dan Pembaharuan Partai Golkar ini dimotori oleh sejumlah fungsionaris seperti Fahmi Idris, Marzuki Darusman, dan Burhanuddin Napitupulu. Forum itu dibentuk pada 3 September lalu, setelah Beringin menyatakan mendukung Megawati-Hasyim pada putaran kedua pemilihan presiden.
Burhanuddin menyatakan, perluasan gerakan ke daerah ini untuk "mendapatkan analisis jika Megawati yang disokong Golkar kalah di putaran kedua". Dikatakannya, Koalisi Kebangsaan untuk memenangkan Megawati-Hasyim Muzadi yang beranggotakan Golkar, PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Damai Sejahtera terbukti belum bisa berjalan. "Koalisi hanya terjadi di tingkat elite," tuturnya.
Meski diklaim sebagai gerakan untuk penyelamatan internal Golkar, menurut sumber, peran tim Jusuf Kalla dalam gerakan ke daerah ini cukup besar. Akhir pekan lalu misalnya, Ahsa Mahmud (Ketua Bidang Promosi, Sosialisasi, dan Media tim Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla) turun ke Semarang. Kunjungannya itu untuk mempersiapkan deklarasi Forum Persatuan dan Pembaharuan Golkar Jawa Tengah di Hotel Patrajasa besok.
Sumber yang sangat dekat dengan Kalla itu mengakui, gerakan perlawanan terhadap pengurus pusat Golkar dilakukan di daerah-daerah yang punya potensi suara besar, di antaranya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Sumatera Utara, dan Jakarta. Ia pun membisikkan, Fahmi Idris dan Marzuki Darusman terlibat aktif dalam gerakan ini.
Tim Kalla, menurut sumber yang sama, juga menyiapkan sejumlah dana untuk para pengurus Golkar daerah. Ini untuk mengimbangi gelontoran dana kubu sang Ketua Umum Akbar Tandjung sebesar Rp 50 juta untuk setiap pengurus kabupaten/kota. Namun, berbeda dengan kubu Akbar, dana akan diberikan setelah pengurus mampu memenangkan duet Yudhoyono-Kalla pada 20 September. "Jumlahnya hampir sama," kata sumber itu.
Tentang hal ini, Burhanuddin tidak membantah atau membenarkan. Ia hanya menyatakan, wajar dalam politik memberikan konsesi. "Justru bagus kalau diberikan setelah 20 September, karena kini tidak ada ikatan apa pun," kata dia.
Ketua Golkar Fahmi Idris yang dihubungi mengaku tidak berperan aktif dalam pembentukan Forum Persatuan dan Pembaharuan Golkar di daerah. Ia bahkan mengatakan, Forum tidak memiliki organisasi struktural. "Tapi bisa jadi, daerah mengambil contoh forum yang dibentuk di tingkat pusat," kata dia.
Sementara itu, Ketua Golkar Rambe Kamarulzaman menafikan kekuatan Forum Pembaharuan. "Forum itu tidak perlu ditanggapi, karena sasarannya tidak jelas," ujarnya. Ia justru mengingatkan agar fungsionaris Golkar tidak melanggar keputusan organisasi atau mengajak kader lain melakukannya.
Rambe membantah penilaian Burhanuddin bahwa mesin politik Koalisi Kebangsaan belum bisa berjalan. "Dia (Burhanuddin) tidak mengerti karena dia tidak pernah ikut. Jadi, dia tak punya hak mengevaluasi," kata politikus itu.
Adapun Akbar Tandjung, Sabtu lalu, mengaku telah menegur Kalla dan Fahmi cs atas tindakan mereka yang dinilai memecah belah partai. Namun, Kalla kemarin mengaku belum mendapat surat teguran resmi. Ia mengaku yakin tidak akan dipecat dari Golkar. "Seorang anggota partai dipecat kalau ada kesalahan," kata anggota Dewan Penasihat Golkar itu, "sedangkan saya tidak bersalah."
Pada pemilu legislatif, Golkar memperoleh 24.480.757 suara dan keluar sebagai pemenang pertama. Beringin pada pemilihan presiden putaran pertama lalu mengusung Wiranto-Salahuddin Wahid, yang belakangan hanya menduduki peringkat ketiga perolehan suara.
budi setyarso/sutarto





