Sejumlah Orang yang Dicurigai Terkait Azahari Ditangkap
Jum'at, 17 September 2004 | 09:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Polisi kemarin menangkap tiga orang yang dicurigai terkait dengan Dr. Azahari, buron tersangka sejumlah kasus teror yang kini dihargai Rp 1 miliar, di Perumahan Rewwin, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka adalah Rahmatulloh dan istrinya, Ny. Farudatus Zuroh, putra mereka yang berusia tiga bulan, serta seseorang berinisial Ag.
"Penangkapan ini terkait dengan peledakan bom di Kuningan," kata Kepala Polda Jawa Timur Irjen Polisi Edy Sunarno kepada wartawan kemarin di Surabaya. Edy tidak memastikan apa peran mereka dalam peledakan yang menewaskan sedikitnya sembilan orang pada Kamis (9/9) itu.
Kepada Tempo, Suyadi, Ketua RT tempat pasangan Rahmatulloh tinggal, mengisahkan, polisi datang menggerebek pada Rabu sekitar pukul 22.00 WIB. Menurut dia, polisi menemukan sejumlah dokumen yang telah dibuang ke dalam sumur. Berdasarkan fotokopi KTP yang ditemukan di rumah itu, Rahmatulloh berasal dari Serang, Banten.
Meski dibenarkan Kepala Polda Jawa Timur, penangkapan itu dibantah Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Komisaris Jenderal Suyitno Landung dan Direktur Antiteror Detasemen 88 Brigjen Pranowo Dahlan. "Saya belum menerima laporan," kata Suyitno di Jakarta.
Kepolisian Daerah Banten tadi malam juga memeriksa Ibrahim Nurdin, penduduk Cilegon, karena wajahnya mirip dengan Noor Din Mohammad Top, buron yang juga dihargai Rp 1 miliar. Namun, menurut Kepala Bagian Humas Ajun Komisaris Ade Kusnadi, Ibrahim sengaja datang ke Polda Banten karena merasa wajahnya mirip dengan foto Noor Din yang dimuat sejumlah media massa. Menurut dia, Ibrahim datang dengan seorang pengacara dan langsung diperiksa Wakil Polda Banten Komisaris Besar Jaya Leksana.
Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar sebelumnya mengindikasikan keterlibatan dua pria, yakni Hasan dan Jabir, dalam kasus pengeboman di Kuningan. Keduanya, menurut Kepala Polri, telah disiapkan Noor Din untuk melakukan serangan (Koran Tempo, 16/9).
Hasan adalah karyawan PT Pertani (persero) di Blitar. Namun, menurut Suparno, staf kantor Pertani Kediri yang membawahkan unit dan gudang Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek, Hasan sudah mundur dari perusahaan itu dua bulan lalu. Suparno mengaku tidak begitu mengenal Hasan karena, menurut dia, Hasan tergesa-gesa jika datang ke kantornya. Ia membenarkan, salah satu foto yang disebar polisi dan disebut sebagai tersangka adalah rekan kerjanya.
Jabir disebut-sebut sebagai ustadz di Pondok Pesantren Darussyahadah, Desa Gunung Madu, Simo, Boyolali. Namun, sejak Mei, ia menghilang dari pondok. "Jabir hanya mengajar kurang dari setahun di sini," kata Direktur Darussyahadah Ustadz Mustaqiem.
Menurut Mustaqiem, nama panggilan Jabir di pondok adalah Gempur. Ia juga lulusan pondok pesantren yang sama. Ia juga lulusan Madrasah Tsanawiah Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, asuhan Amir Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Ba'asyir. Ustadz Wahyuddin, Direktur Al-Mukmin, membenarkan informasi ini.
Jabir disebut-disebut masih terhitung keponakan Faturrohman al-Gozhi, tersangka teroris yang tewas ditembak aparat keamanan Filipina. Namun, informasi ini belum bisa dikonfirmasikan.
sunudyantoro/dwidjo/imron/martha/yophiandi/faidil





